Aku
tau banyak diluar sana hati yang mungkin bisa saja menjadi penopang saat aku
jatuh. Hati yang juga mungkin bersedia menemani sepiku. Yang bersedia berlarut
kebahagiaan dan kesedihan bersamaku. Yang bersedia berbagi segala yang ia punya
padaku.
Aku
memilihmu dengan apa saja resiko yang akan ku hadapi nanti. Aku memilihmu
karena aku percaya. Rasa tak pernah salah dalam mengeja. Meski ia tak selalu
benar dalam memperhitungkan luka. Tak apa, bagiku memilihmu selalu mampu
memulihkan. Kau obat atas segala nyeri di sudut hati, walau kadang, tak jarang
kau juga yang menjadi sebab rindu yang merangkul sepiku.
Aku
memilihmu atas segala rasa di dada. Mengabaikan segala kalimat manusia yang
melemahkanku. Aku memilih buta. Aku memilih tuli. Aku memilih tak peduli pada
ejaan manusia yang hanya ingin aku tanpa kamu.
Memilihmu
adalah hal yang ingin ku kenang sebagai keputusan terbaik. Meski nanti yang aku
dapat tak selalu hal-hal yang baik. Tak apa. Memilihmu akan selalu
menyenangkan. Meski juga menggenangkan.
Bila
akhirnya apa yang aku pilih tak juga membuat pulih. Dan aku akan tetap
tersenyum meski perih. Setidaknya aku bahagia, pernah mencintaimu, dan pernah
memilihmu. Meski tak memulihkanku.
Kesini,
dekatkanlah telingamu. Aku ingin bercerita beberapa hal kepadamu, tentang
dirimu, dan kenapa aku memilihmu. Untuk bisa menjadi pantas mendampingimu.
Kau
tau? Bagiku kau adalah lelaki yang meneduhkan. Kau adalah lelaki yang membuatku
merasa utuh, meski kadang tak jarang hujan pun meruntuh di dadaku. Saat cinta
yang ku jaga ternyata tak kau rasa. saat rindu yang ku punya hanya terpendam
dan menua.
Sekali
lagi bagiku kau adalah lelaki yang meneduhkan. Meski kita telah jarang bertemu.
Kau sibuk dengan duniamu dan aku sibuk dengan rinduku. Kau berjalan dengan segala
senyummu, aku berjuang untuk membuatmu kelak percaya. Aku adalah wanita yang
pantas bersamamu.
Di
dadaku masih selalu mengalir rindu, menujumu dan tak pernah merasa jemu. Karena
bagaimanapun kamu, sekali lagi, bagiku kau lelaki yang meneduhkan.
Bagiku
mencintaimu tak pernah melelahkan. Karena aku percaya saat mencintai, kita
hanya perlu memberi hati, tanpa perlu berharap lebih dari apa yang kita beri.
Aku memberikan hatiku padamu, dan aku tau, kau belum tentu membalas hati
padaku. Namun tak mengapa, karena begitulah mencintai sesungguhnya.



