Selasa, 10 November 2015

Malu oleh Badai

Posted by sarah wulan dini at 16.14 1 comments
Sesuatu yang kecil bisa menyelinap dan menghancurkan dari dalam. Dan yang paling menakutkan adalah, semuanya terjadi tanpa sempat kamu sadari.

Ironis rasanya mengetahui bagaimana seorang manusia bisa dengan percaya diri dan mudahnya melewati sebuah badai yang besar. Namun dalam waktu yang sama mengetahui ada beberapa pasang manusia yang bisa hancur hanya karena kerikil kecil.

Sepasang manusia yang akhirnya rela saling melepaskan genggaman tangan hanya karena ancaman kerikil kecil, padahal sebelumnya pernah melewati puluhan badai yang luar biasa besarnya berdua. Logikanya, sepasang manusia yang berhasil melewati badai berdua atas nama cinta pasti lebih bisa melewati kerikil kecil. Namun sekali lagi, cinta seringkali tak sejalan dengan logika.

Badai yang besar harusnya malu kepada kerikil kecil. Dan sepasang manusia yang kehilangan cinta hanya karena kerikil kecil, akan tertutup mukanya oleh pasir yang terbawa angin badai.

Aku tak ingin malu di depan badai dan kerikil, beserta pasir yang senantiasa menyertai mereka.

Sebuah cinta, semestinya lebih digdaya dari badai dan kerikil yang melanda.

Kepada kamu, genggam tanganku. Kita lewati badai, kita langkahi kerikil.

Sabtu, 17 Oktober 2015

Inikah rasanya jarak?

Posted by sarah wulan dini at 08.15 0 comments
Jarak sejauh ini tak mampu membuat kita berbuat dan bergerak lebih banyak. Seakan-akan aku dan kamu tak punya ruang untuk saling  bersentuhan juga saling menatap. Rasanya menyakitkan jika keterbatasanku dan keterbatasanmu menjadi penyebab kita tak banyak tahu dan tak banyak bertemu. Setiap hari, kita menahan rindu yang semakin menggebu dan tak mereda. Inikah cara cinta menyiksa? Melalui jarak ratusan kilometer?

Aku menghela napas, membayangkan jika kamu bisa terus berada di sampingku dan merasakan yang juga kurasakan. Maka mungkin tak akan ada air mata ketika hanya tulisan dan suara yang bisa menguatkan kita. Maka tentu saja tak akan ada ucapan rindu berkali-kali yang terlontar dari bibir kita, ketika perasaan itu semakin membabibuta.

Apakah yang kita pertahankan selama ini? Apakah yang kita andalkan sejauh ini? Sekuat apakah perasaan cinta kita? Menahan dan mempertahankan, dan kadangkala memicu pertengkaran. Tapi... itulah manisnya jarak, ia membuat kita saling menyadari, tak ada cinta tanpa luka, tak ada cinta tanpa rindu.

Sayang, apalah arti ratusan kilometer jika kita masih mengeja nama yang sama? Apakah arti jauhnya jarak jika aku dan kamu masih sangat mungkin mempertahankan semuanya? Kita jarang saling bergenggaman tangan, jarang sekali berpelukan, dan sangat jarang saling berpandangan. Namun, percayalah, sayang, tak saling bersentuhan bukan berarti cinta kita punya banyak kekurangan.

Apa yang kucari dan apa yang kamu cari? Tak ada, kita masih meraba-raba apa itu cinta dan bagaimana kekuatan itu bisa membuat kita bertahan. Rasa cemburu, rasa ragu, dan rasa rindu sebenarnya adalah pemanis. Tidak ada hal yang sangat berat, jika kita melalui berdua; melewatinya bersama.

Selama bulan yang kita lihat masih sama, selama sinar matahari yang menyengat kulit kita masih sama hangatnya, maka pertemuanku dan kamu masih akan tetap terjadi.

Jarak hanyalah sekadar angka, jika kita masih memperjuangkan cinta yang sama.

Selasa, 08 September 2015

Hi My Past

Posted by sarah wulan dini at 01.27 0 comments
Hai masa lalu,  Tidak, aku hanya ingin menyapa. Hmmm .... Berdebukah kau? Maaf aku semakin jarang mengunjungimu. Aku disibukkan dengan masa kini dan impian masa depan. Tenang saja, aku takkan melupakanmu. Aku hanya mungkin jarang menengokmu.

Hai masa lalu. Aku hanya ingin menyapa. Terimakasih pernah ada . Terimakasih pernah menjadi bagian dari perjalananku. Sedih pun bahagia kisah mu menjadi penguat langkahku dimasa kini. Bukankah masa kini adalah hasil rentetan perjalanan masa lalu? Maka itu aku berterimakasih. 

Hai masa lalu. Aku pernah jatuh, aku perah sakit hati. Tapi sudah kusimpan semua cerita dalm sebuah kotak kenangan yang kunamakan masa lalu. Ya kamu, ruangmu mungkin kini gelap, aku pasti akan sering kembali melihat ruangmu, namun hanya sebentar. Aku takkan lama-lama, sekedar melihat lagi seperti apa jalan yang kulalui dulu agar aku bisa belajar lagi jika saja masa kiniku aku lupa atau mungkin lalai menjaga langkah.

Hai masa lalu. Lihatkah kau bagaimana aku dimasa kiniku? Bagaimana menurutmu? Semoga kau bangga. Sebab apapun yang kucapai, adalah karena semua pelajaran dimasa lalubegitu membekas dan mampu membentukku.

Hai masa lalu. Mari berdamai. Aku akan belajar mendewasa. Menjadi lebih tangguh dimasa kini sebagai penguat langkahku. Dan mantap kisahku dimasa depan. 



Jumat, 21 Agustus 2015

Analisis Pengujian Chip Gunadarma2 Pada Rangkaian ADC Pipeline 3 Bit .

Posted by sarah wulan dini at 02.51 0 comments
Skripsi. Jurusan Sistem Komputer, Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi, Universitas Gunadarma, 2015
Kata Kunci : ADC Pipeline 3 Bit, CMOS C35B4C3, Gunadarma2, Mentor Graphics, PLCC68.

( xiii + 41 + Lampiran)

Teknologi CMOS dapat juga digunakan untuk disain analog dan rangkaian RF sehingga banyak chip yang dikembangkan dengan sistem komplek dengan bantuan CAD (Computer Aided Design). Pengembangan teknologi komponen terpadu (VLSI) semakin pesat dengan ukuran semakin kecil (saat ini telah sampai pada teknologi 14nm) dan memungkinkan pengembangan SOC (System On Chip) untuk peralatan multimedia. Tujuan pengujian ini adalah untuk memeriksa kinerja chip CMOS Gunadarma2 dengan teknologi C3B4C35. Metode yang digunakan pada pengujian chip ini dengan pengujian alat dan pengujian visual melalui software CAD. Software yang dipakai untuk pengujian adalah Mentor Graphics. Pengujian visual pada mentor graphics dilakukan karena hasil pengujian alat tidak sesuai dengan teori. Pengujian visual dengan memeriksa kesalahan yang terdapat pada layout chip. Pemeriksaan pada layout chip meliputi pemeriksaan jalur koneksi dan konektor yang dipakai serta jalur VDD dan Ground yang dipakai oleh ADC Pipeline 3 Bit dalam chip ini. Dari hail pemeriksaan layout chip terdapat satu kesalahan yang menyebabkan chip tidak dapat berfungsi, yaitu jalur VDD dan Ground yang tersambung dalam satu pin. Kesalahan ini terdapat pada rangkaian ADC Single Slope sehingga kesalahan tersebut dapat mempengaruhi kinerja dari rangkaian ADC lain yang terdapat dalam chip CMOS Gunadarma2 dengan teknologi C3B4C35.

Daftar Pustaka (2013-2015)

Dear P.

Posted by sarah wulan dini at 00.57 0 comments
Ya mungkin smua orang melihat kita ini pasangan yang aneh...
"Satu gendut bgt, satu kurus bgt", atau
"Cewenya jelek, cwonya baby face", atau
"Cwenya cantik ya, masa cwonya gendut gitu kan jelek, ga cocok"... aaahhhh I don't care with them. No matter what people said..
Tak peduli dengan semua gunjingan itu, fisik kita memang aneh, tp justru keanehan itu yang buat gue nyaman ...
Dia adalah sosok pria yang membuat gue belajar setia, belajar memperjuangkan, belajar menghargai perasaan orang, dan belajar mencintai dengan tulus...
Dengan hobby yang berbeda,  Gue adalah sosok perempuan yang bodo amat, yang sukanya baca buku, nonton film, dan ga suka game, yaaa ampuunn ada orang ga suka main game? Ya itu gue ...
dia keranjingan game (khususnya dota, I hate that game) dan cuek bgt... tp dia pribadi yang tekun, yang tidak gampang nyerah dalam hal apapun, termasuk buat mendapatkan gue ... yaa guee...
Dia perlu waktu 2thn nunggu gue, agustus 2012 dia yang gue cinta, tp gue malah jadian sama orang lain. aaahhh Bodoh sekali gue, seharusnya bisa sabar menunggu dia untuk menyatakan perasaan, tp malah terima lelaki lain... 2thn gue ngejalanin hubungan dengan si A yg kurang ajar itu, tp dia masih setia nungguin gue... sampai akhirnya gue pilih dia sampai sekarang dan ga akan pernah berpaling lagi...
Dia yang sangat takut kehilangan gue, tp dia pernah bilang "kalo seandainya nanti kamu pacaran atau dilamar sama orang yg lebih baik daripada aku, aku ikhlas kok yank, tp aku sangat takut itu terjadi" ... ya itu kata2 terbullshit yang pernah gue denger ... tp memang terbukti, dia ikhlas gue jatuh cinta smaa cwo yg menurut dia lebih baik drpada dirinya, dia bisa nahan sakit hati itu. tp disaat gue jauh dr cwo itu, dia kembali lg sama gue... itulah hal yg buat gue jatuh cinta dgnnya...
Alhamdulillah... Beruntungnya gue dipertemukan dan jatuh cinta dengan dia...
gue sadar gue ini seperti apa, cwe belagu yang gampang termakan rayuan dr lelaki yang blablabla ... "aku janji sama km yank, ga akan mau bohongin kamu -lagi-, akan slalu jaga perasaan kamu sampai tiba saatnya nanti kita menjadi pasangan yang #HALAL ... Mudah2an Allah punya rencana baik untuk kita ndut ... Aamiin"
I LOVE YOU MORE AND MORE :p

If my life were to be a book, I'd definitely find your name on the last page, cause you make a great ending to my life's story. Aamiin




THANKS FOR BEING THERE


Thanks for being, you,

Thanks for correcting me when I was wrong,
Thanks for helping me follow the guidelines to survive,
Thanks for helping me try and cope with people around,
Thanks for giving me the courage to stand up on my own.

Thanks for all the advices,
Thanks for lending me your ears when I was upset,
Thanks for teaching me ways to hold on to the end,
Thanks for the love and care you showed.

Thanks for the wishes you have for me,
Thanks for the prayers you pray for me daily,
Thanks for the candles that you lit for me,
Thanks for the appreciation,
Thanks for not keeping a fence between,
Thanks for the confidence you have in me.

So, after all i just wanna say it with the simplest form, thankyou for everything Ndut :}

Minggu, 15 Februari 2015

Aku Rindu Kamu yang Dulu

Posted by sarah wulan dini at 23.04 0 comments
Setelah pertengkaran kita semalam, rasanya aku masih belum paham, pria macam apa yang dulu bisa begitu kucintai. Aku tidak pernah melihat kamu yang seperti ini. Kamu yang tak peduli, kamu yang mengucapkan janji setengah hati, kamu yang selalu marah setiap kali kutanya siapa wanita-wanita itu, kamu yang tak pernah mau jelaskan dan menjawab pertanyaanku, dan kamu yang kali ini tidak lagi kukenali. Aku tidak tahu siapa pria yang kali ini membalas pesan singkatku, pria yang begitu mudah berkata putus, kemudian mengeluarkan makian, lalu menonaktifkan ponsel tanpa memberikan penjelasan apapun.

Kamu tahu, Sayang, aku sudah sesabar apa. Aku rela tidak menuntutmu ini itu, karena pekerjaanmu yang segunung dan tak bisa sering-sering memberi kabar untukku. Aku tidak memintamu selalu menghubungiku sepanjang waktu, berusaha tak memarahimu ketika kamu lelah dengan pekerjaanmu dan melarikan semua amarahmu dengan cara menyakitiku. Aku setia jadi tempat curahan hatimu, tempat kamu membentak seluruh isi dunia, tempat kamu membenci hari-hari. Aku berusaha sekuat mungkin jadi dinding kokoh yang kau ludahi, kau coret-coret, kau kotori tanpa aku memakimu balik. Apakah kau tak melihat kesabaran hati seorang perempuan dari semua sikapku yang selalu menahan diri untuk tak menangis di depanmu?

Kamu tak lihat air mataku, tak lihat juga seberapa parah lukaku selama ini. Aku tak pernah berusaha berteriak seperti kamu selalu meneriakiku, tak ingin memaki dengan bahasa kasar, tak mau melukaimu seperti kamu selalu melukaiku. Sebutkan padaku, Sayang, perempuan mana yang rela berdarah-darah untukmu selain ibumu dan aku? Perempuan mana yang ada bersamamu bahkan dalam sakit dan lemahmu jika bukan ibumu dan aku? Apakah perempuan lain yang selalu kau datangi dan kau cumbu itu bisa bertahan denganmu bahkan dalam keadaan terburukmu? Apakah perempuan lain yang selalu membuatku harus bersabar lebih banyak lagi ada perempuan yang pantas kau datangi? 

Sayang, sadarlah, suatu saat nanti perempuan jalang yang kau cumbu meskipun hanya lewat kata itu akan pergi, mengisap habis seluruh kekuatan dan dayamu, pada akhirnya kamu akan terseok-seok berjalan ke arahku. Namun, masa itu belum datang, Sayang. Saat ini, kamu hanya melihatku sebagai perempuan ingusan yang bahkan belum lulus kuliah. Perempuan egois, labil, cabe, emosi, tak tahu diri yang hanya ingin dikabari sepanjang hari. Sayang, kamu melihatku hanya dari sisi yang paling kau benci. Kau belum paham bahwa perempuan yang takut kehilangan kamu adalah perempuan yang sangat mencintaimu. Masa itu akan datang, Sayang, saat aku tak lagi memedulikanmu dan kamu bersungut-sungut memintaku pulang.

Kali ini, biarkan hatiku teriris sendiri. Biarkan aku yang terluka parah, biarkan aku yang  menangis diam-diam sekarang. Tapi, lihatlah nanti, Sayang. Suatu saat nanti, air mataku berubah jadi senyum tak berkesudahan. Aku sebenarnya tahu apa yang harus kulakukan, pergi meninggalkanmu, melupakanmu, dan menganggap semua tak pernah terjadi. Namun, sekarang aku masih sabar untuk menghadapimu, aku masih ingin memberimu kesempatan untuk yang ke beribu kali. Jika kesabaranku ini masih ingin kamu sia-siakan, mungkin jalan terbaik memang harus pergi. Karena kamu bukan lagi pria yang kukenal seperti dulu lagi, bukan pria manis yang kucintai karena ketulusan dan keramahannya.

Kini, kamu adalah pria kasar yang tak segan-segan mengeluarkan kata makian, hujatan, dan kata-kata lain yang menusukkan jarum-jarum kecil di hatiku. Kamu berubah jadi pria lain, pria egois yang selalu ingin dimengerti kesibukkannya, dan membiarkan aku menunggu sabar tanpa melawan ataupun membuka suara. Aku tak tahu mengapa perjuanganku hanya kauanggap angin lalu. Apa matamu tak terbuka untuk menyadari siapa perempuan yang selama ini jatuh bangun hanya untuk mencintaimu?

Biarlah waktu yang membuatmu sadar, Sayang. Biarkan aku yang hanya kauanggap angin lalu ini pergi pelan-pelan dari hidupmu. Beri aku kesempatan untuk menghirup udara bebas dan tak lagi menangisi sikap cuekmu selama ini. 

Permintaanku tak banyak, aku hanya ingin kamu yang dulu kembali lagi ke masa kini. Entahlah.... rasanya aku sangat ingin kamu yang dulu. Kamu yang lugu, polos, dan selalu takut kehilangan aku. Aku rindu kamu yang dulu.




untuk yang selalu ada dalam doaku

yang selalu percaya, cinta yang kurasa


hanya bualan belaka

Selasa, 10 Februari 2015

Bisakah Kaubayangkan Rasanya jadi Aku?

Posted by sarah wulan dini at 04.06 0 comments

Kamu pernah menjadi bagian hari-hariku. Setiap malam, sebelum tidur, kuhabiskan beberapa menit untuk membaca pesan singkatmu. Tawa kecilmu, kecupan berbentuk tulisan, dan canda kita selalu membuatku tersenyum diam-diam. Perasaan ini sangat dalam, sehingga aku memilih untuk memendam.

Jatuh cinta terjadi karena proses yang cukup panjang, itulah proses yang seharusnya aku lewati secara alamiah dan manusiawi. Proses yang panjang itu ternyata tak terjadi, pertama kali melihatmu; aku tahu suatu saat nanti kita bisa berada di status yang lebih spesial. Aku terlalu penasaran ketika mengetahui kehadiranmu mulai mengisi kekosongan hatiku. Kebahagiaanku mulai hadir ketika kamu menyapaku lebih dulu dalam pesan singkat. Semua begitu bahagia.... dulu.

Aku sudah berharap lebih. Kugantungkan harapanku padamu. Kuberikan sepenuhnya perhatianku untukmu. Sayangnya, semua hal itu seakan tak kaugubris. Kamu di sampingku, tapi getaran yang kuciptakan seakan tak benar-benar kaurasakan. Kamu berada di dekatku, namun segala perhatianku seperti menguap tak berbekas. Apakah kamu benar tidak memikirkan aku? Bukankah kata teman-temanmu, kamu adalah perenung yang seringkali diam ketika memikirkan sesuatu yang begitu dalam? Temanmu bilang, kamu melankolis, senang memendam, dan enggan bertindak banyak. Kamu lebih senang menunggu. Benarkah kamu memang menunggu? Apalagi yang kautunggu jika kausudah tahu bahwa aku mencintaimu?

Tuan, tak mungkin kautak tahu ada perasaan aneh di dadaku. Kekasihku yang belum sempat kumiliki, tak mungkin kautak memahami perjuangan yang kulakukan untukmu. Kamu ingin tahu rasanya seperti aku? Dari awal, ketika kita pertama kali berkenalan, ah.... Senyummu adalah salah satu keteduhan yang paling ingin kulihat setiap hari. Dulu, aku berharap bisa menjadi salah satu sebab kautersenyum setiap hari, tapi ternyata harapku terlalu tinggi.

Semua telah berakhir. Tanpa ucapan pisah. Tanpa lambaian tangan. Tanpa kaujujur mengenai perasaanmu. Perjuanganku terhenti karena aku merasa tak pantas lagi berada di sisimu. Munggkin sudah ada seseorang yang baru, yang nampaknya jauh lebih baik dan sempurna daripada aku.

Setelah tahu semua itu, apakah kamu pernah menilik sedikit saja perasaanku? Ini semua terasa aneh bagiku. Kita yang dulu sempat dekat, walaupun tak punya status apa-apa, meskipun berada dalam ketidakjelasan, tiba-tiba menjauh tanpa sebab. Aku yang terbiasa dengan sapaanmu di pesan singkat harus (terpaksa) ikhlas karena akhirnya kamu sibuk dengan duniamu. Aku berusaha memahami itu. Setiap hari. Setiap waktu. Aku berusaha meyakini diriku bahwa semua sudah berakhir dan aku tak boleh lagi berharap terlalu jauh.

Tuan, jika aku bisa langsung meminta pada Tuhan, aku tak ingin perkenalan kita terjadi. Aku tak ingin mendengar suaramu ketika menyebutkan nama. Aku tak ingin membaca pesan singkatmu yang lugu tapi manis. Sungguh, aku tak ingin segala hal manis itu terjadi jika pada akhirnya kamu menghempaskan aku sekeji ini.

Kalau kauingin tahu bagaimana perasaanku, seluruh kosakata dalam miliyaran bahasa tak mampu mendeskripsikan. Perasaan bukanlah susunan kata dan kalimat yang bisa dijelaskan dengan definisi dan arti. Perasaan adalah ruang paling dalam yang tak bisa tersentuh hanya dengan perkatan dan bualan. Aku lelah. Itulah perasaanku. Sudahkah kaupaham? Belum. Tentu saja. Apa pedulimu padaku? Aku tak pernah ada dalam matamu, aku selalu tak punya tempat dalam hatimu.

Setiap hari, setiap waktu, aku selalu berusaha menganggap semua baik-baik saja. Semua akan berakhir seiring berjalannya waktu. Aku membayangkan perasaanku yang suatu saat nanti pasti akan hilang, aku memimpikan lukaku akan segera kering, dan tak ada lagi hal-hal penyebab aku menangis setiap malam. Namun.... sampai kapan aku harus terus mencoba?

Sementara ini saja, aku tak kuat melihatmu tersenyum kepadaku.  Tak mudah meyakinkan diriku sendiri untuk segera melupakanmu kemudian mencoba mencintai orang yang mencintaiku saat ini.

Seandainya kamu bisa membaca perasaanku dan kamu bisa mengetahui isi otakku, mungkin hatimu yang beku akan segera mencair. Aku tak tahu apa salahku sehingga kita yang baru saja kenal, baru saja mencicipi cinta, tiba-tiba terhempas dari dunia mimpi ke dunia nyata. Tak penasarankah kamu pada nasib yang membiarkan kita kedinginan seorang diri?

Aku menulis ini ketika mataku tak kuat lagi menangis. Aku menulis ini ketika mulutku tak mampu lagi berkeluh. Aku mengingatmu sebagai sosok yang pernah hadir, meskipun tak pernah benar-benar tinggal. Seandainya kautahu perasaanku dan bisa membaca keajaiban dalam perjuanganku, mungkin kamu akan berbalik arah—memilihku sebagai tujuan. Tapi, aku hanya persinggahan, tempatmu meletakan segala kecemasan, lalu pergi tanpa janji untuk pulang.

Semoga kautahu, aku berjuang, setiap hari untuk melupakanmu. Aku memaksa diriku agar membencimu, setiap hari. Aku berusaha keras, setiap hari, menerima kenyataan yang begitu kelam.

Bisakah kaubayangkan rasanya jadi orang yang setiap hari terluka, hanya karena ia tak tahu bagaimana perasaan orang yang dicintainya? Bisakah kaubayangkan rasanya jadi aku yang setiap hari berharap bisa berbincang denganmu lagi? Salahkah aku?

Bisakah kau bayangkan rasanya jadi seseorang yang setiap hari menahan tangisnya agar tetap terlihat baik-baik saja?


Kamu tak bisa. Tentu saja. Kamu tidak perasa.

Sabtu, 31 Januari 2015

Mungkin, aku terlalu berharap banyak

Posted by sarah wulan dini at 00.24 0 comments
Rasanya semua terjadi begitu cepat, kita berkenalan lalu tiba-tiba merasakan perasaan yang aneh. Setiap hari rasanya berbeda dan tak lagi sama. Kamu hadir membawa banyak perubahan dalam hari-hariku. Hitam dan putih menjadi lebih berwarna ketika sosokmu hadir mengisi ruang-ruang kosong di hatiku. Tak ada percakapan yang biasa, seakan-akan semua terasa begitu ajaib dan luar biasa. Entahlah, perasaan ini bertumbuh melebihi batas yang kutahu.

Aku menjadi takut kehilangan kamu. Siksaan datang bertubi-tubi ketika tubuhmu tidak berada di sampingku. Kamu seperti mengendalikan otak dan hatiku, ada sebab yang tak kumengerti sedikitpun. Aku sulit jauh darimu, aku membutuhkanmu seperti aku butuh udara. Napasku akan tercekat jika sosokmu hilang dari pandangan mata. Salahkah jika kamu selalu kunomorsatukan?

Tapi... entah mengapa sikapmu tidak seperti sikapku. Perhatianmu tak sedalam perhatianku. Tatapan matamu tak setajam tatapan mataku. Adakah kesalahan di antara aku dan kamu? Apakah kamu tak merasakan yang juga aku rasakan?

Kamu mungkin belum terlalu paham dengan perasaanku, karena kamu memang tak pernah sibuk memikirkanku. Berdosakah jika aku seringkali menjatuhkan air mata untukmu? Aku selalu kehilangan kamu, dan kamu juga selalu pergi tanpa meminta izin. Meminta izin? Memangnya aku siapa? Kekasihmu? Bodoh! Tolol! Hadir dalam mimpimu pun aku sudah bersyukur, apalagi bisa jadi milikmu seutuhnya. Mungkinkah? Bisakah?

Lihatlah aku yang hanya bisa terdiam dan membisu. Pandanglah aku yang mencintaimu dengan tulus namun kau hempaskan dengan begitu bulus. Seberapa tidak pentingkah aku? Apakah aku hanyalah persimpangan jalan yang selalu kau abaikan – juga kautinggalkan?

Apakah aku tak berharga di matamu? Di mana letak hatimu?! Aku tak bisa bicara banyak, juga tak ingin mengutarakan semua yang terlanjur terjadi. Aku tak berhak berbicara tentang cinta, jika kauterus tulikan telinga. Aku tak mungkin bisa berkata rindu, jika berkali-kali kauciptakan jarak yang semakin jauh. Aku tak bisa apa-apa selain memandangimu dan membawa namamu dalam percakapan panjangku dengan Tuhan.

Sadarkah jemarimu selalu lukai hatiku? Ingatkah perkataanmu selalu menghancurleburkan mimpi-mimpiku? Apakah aku tak pantas bahagia bersamamu? Terlau banyak pertanyaan. Aku muak sendiri. Aku mencintaimu yang belum tentu mencintaiku. Aku mengagumimu yang belum tentu paham dengan rasa kagumku.

Aku bukan siapa-siapa di matamu, dan tak akan pernah menjadi siapa-siapa. Sebenarnya, aku juga ingin tahu, di manakah kauletakkan hatiku yang selama ini kuberikan padamu. Tapi, kamu pasti enggan menjawab dan tak mau tahu soal rasa penasaranku. Siapakah seseorang yang telah beruntung karena memiliki hatimu?

Mungkin... semua memang salahku. Yang menganggap semuanya berubah sesuai keinginanku. Yang bermimpi bisa menjadikanmu lebih dari teman. Salahkah jika perasaanku bertumbuh melebihi batas kewajaran? Aku mencintaimu tidak hanya sebagi teman, tapi juga sebagai seseorang yang bergitu bernilai dalam hidupku.

Namun, semua jauh dari harapku selama ini. Mungkin, memang aku yang terlalu berharap terlalu banyak. Akulah yang tak menyadari posisiku dan tak menyadari letakmu yang sungguh jauh dari genggaman tangan. Akulah yang bodoh. Akulah yang bersalah!

Tenanglah, tak perlu memerhatikanku lagi. Aku terbiasa tersakiti kok. Tidak perlu basa-basi, aku bisa sendiri. Dan, kamu pasti tak sadar, aku berbohong jika aku bisa begitu mudah melupakanmu.

Menjauhlah. Aku ingin dekat-dekat dengan kesepian saja, di sana lukaku terobati, disana mungkin tak kutemui orang sepertimu.

dari seseorang yang kehabisan cara


membuktikan rasa cintanya


Ingat Sesibuk Apapun dan Secapek Apapun

Posted by sarah wulan dini at 00.21 0 comments
Apakah kamu pernah menyadari apa yang sering kita lakukan itu selalu membuatku bahagia ? Kita selalu menyenanginya.

Sangat menyenangkan, kulakukan setiap pagi, setidaknya sms/bbm,

“ Pagi sayangku “
“ Sayang…..bangun. aku cium ni “

Ini semangat yang selalu membuat ingin segera bangun, demi kamu. demi kita.
Kita selalu mencari alasan agar bisa saling bertemu, sesibuk apapun - kamu secapek apapun aku. Ingat sesibuk apapun-secapek apapun!. Apakah untuk sekedar bertegur sapa, atau sekedar bicara sebait atau beberapa bait kata.

“ Sayang, kamu capek ya …”
Atau,
“ Sayang, aku cinta kamu…”

Kita selalu melakukannya, kadang hanya sekedar menikmati senja. Kita tak pernah peduli waktu yang selalu mendesak kita. Bagiku kamu adalah penawar lelahku. Bagimu aku adalah ‘lelucon’ yang selalu bisa membuatmu tertawa lepas.
Kita kadang selalu mengulur waktu untuk bisa lebih lama lagi, bila aku ingin cepat pulang- kamu menahan dengan caramu "nanti aja sayang, masih ujan" atau "aku masih kangen kamu" . Bila kamu ingin cepat pulang- aku selalu membuat lelucon agar kamu tak jadi pulang. Kita benar-banar merepotkan segala sesuatu tentang pulang. Selalu ingin mengulur waktu.

“Sayang…30 menit lagi ya…”
“Belum, masih lama….”

Tapi senja memang tak mau tunduk pada kita. Dan kita lagi yang harus mengalah.
Berbicara lewat telepon selalu menjadi pilihan, kita selalu bicara hal-hal yang bisa membuat kita tertawa. Aku bahagia menjalani semua ini denganmu.

“Selamat tidur sayang. Gnite I love you ndut (ˆ 3(´ε`c)  “
“Selamat tidur juga sayangku. Gnite I love you too ndul  ~(◦´˘)зε(˘` ) ”

Tapi, aku kadang tak bisa tidur, aku menuliskan ini untukkmu. Bacalah! Bila nanti kita dipisahkan waktu. Aku akan tetap mencintaimu sepenuh hati. Kamu juga, Harus. Aku tak akan bisa sebahagia ini. bila tanpamu.
Kita harus percaya. Kita punya cinta yang kuat untuk saling menjaga. Aku hanya ingin kamu seumur hidupku.


Ingat sesibuk apapun – secapek apapun!. Kita akan tetap melakukannya.

Maukah kau memilihku sebagai tempatmu pulang?

Posted by sarah wulan dini at 00.09 0 comments
Untuk Pengundang Tawaku...

Di malam minggu sedingin ini, mungkin kamu sedang berpeluk dengan seseorang, sedang merasakan hangatnya kotamu, sedang mendengarkan alunan musik di sebuah cafe yang penerangannya begitu romantis, atau mungkin malah sedang bermain kartu sambil menertawakan dirimu sendiri. Malam ini, sambil mendengar lagu Firasat yang dilantunkan Marcell, aku bermaksud mengantarkan perasaan rindu ini padamu, rindu yang tak kauketahui, rindu yang tak kaupahami, rindu yang tak kaugubris sama sekali.

Hari ini, kamu tak menyapaku sama sekali. Aku berusaha mencari-cari alasan untuk menenangkan diriku sendiri. Pasti kamu sibuk, kamu sedang melakukan banyak hal, kamu sedang mengurus sesuatu yang membuatmu tak bisa terus menggenggam ponselmu. Aku tak peduli, Sayang, hingga saat aku menulis ini; aku masih ingin menunggumu. Bodohkah aku? Tololkah aku? Iya, sejak kamu hadir mengguncangkan hari-hariku, aku tak lagi bisa bedakan mana kebenaran dan ketololan. Semuanya berkiblat ke arahmu, otakku dan hatiku. Semakin hari aku semakin sadar, aku sedang dalam keadaan sangat mencintaimu.

Aku tak tahu apa arti semua ini, Sayang. Apa arti kedekatan kita? Apa arti kebersamaan kita? Apa arti komunikasi hangat kita yang terjalin selama ini? Aku tak tahu dan tak ingin mencari tahu. Aku hanya tahu kamu tiba-tiba hadir, membawa perasaan berbeda dalam duniaku, dan kau menyelinap ke dalam hatiku; yang pernah aku kunci rapat-rapat untuk siapapun yang ingin singgah. Aku berharap kautak hanya singgah di sini, aku berharap kauakan tinggal dan menetap, serta berjanji tak akan pergi lagi.

Aku tak tahu apa arti semua ini. Aku tak tahu mengapa kauizinkan aku melangkah pelan, masuk ke dalam duniamu, dan kaubiarkan aku mengganggu aktivitasmu, kauizinkan aku bertanya banyak hal, kautak marah ketika aku mengganggu keseriusanmu. Aku tidak kamu posisikan sebagai pengganggu, kaubuka tanganmu lebar-lebar, namun kautak mengajakku masuk ke dalam pelukmu. Aku tak tahu apa arti pesan singkat kita. Apa arti kalimat "I love you, too" di akhir percakapan telepon kita. Aku tak tahu, namun aku masih ingin menjalani hari-hari ini bersamamu. Tak ingin semua berakhir dengan cepat. Aku ingin semua ini tetap ada dan terus ada, terutama kamu yang selama ini kugilai setengah mati.

Aku sadar, Sayang, aku bukan siapa-siapa di matamu. Aku juga sadar, aku hanya gadis pemimpi yang mendambakan ksatria tangguh yang suatu saat akan membangunkanku dari tidur, namun kutahu sosok itu bukan kamu. Iya, bukan kamu, dan aku sangat terluka mengetahui kamu tak akan pernah jadi siapapun, serta aku tak akan pernah jadi siapa-siapamu. Jarak kita begitu jauh, jarak kasat mata yang tak terbaca indra, jarak yang hanya mampu dibaca oleh isyarat; di baca oleh hati kita masing-masing.

Lihatlah, Sayang, aku masih mabuk kepayang.. Saat pada akhirnya aku bisa merasakan tatapanmu, mendengar jelas suaramu, menikmati suaramu, namun masih tak berani menyentuh sosokmu. Sepulang kuliah, aku langsung menyusulmu ke sana, ke tempat semua rindu pulang, ke tempat semua pelukan pergi. Kita berdua duduk berhadapan, di bawah terik matahari kota Jakarta, dihiasi dengan desing suara pesawat yang pergi dan mendarat, di antara suara Damri dan taksi warna-warni, juga bersama suara pengumuman pesawat yang telah siap terbang. Aku tidak menyangka kita bisa melangkah sejauh ini. Aku bisa menikmati sosokmu tanpa batasan apapun. Aku bisa, Sayang, aku bisa melihatmu, tepat di depanku. Aku bisa melihat senyummu, tawamu, mendengar suara beratmu, dan aku percaya ini bukan mimpi. Ini kenyataan yang kuperjuangkan setengah mati. Hari itu, aku terakhir kali bertemu denganmu, tapi satu jam lagi kamu harus pergi. Bisakah kaubayangkan rasanya jadi aku? Saat aku sedang rindu-rindunya sama kamu.

Kamu pulang dengan janji akan kembali, aku tak tahu kapan kaukembali dan ke mana kauakan kembali, karena ini bukan kotamu, ini bukan kota kita. Kotamu di sana, bersama masa lalumu, namun aku masih bertanya-tanya apakah kota ini, kotaku, akan menjadi kota kita jika kau memutuskan diri untuk menetap di sini? Aku tak mau berandai-andai, aku tak ingin berharap terlalu banyak, aku hanya ingin bertemu denganmu lagi, di sebuah tempat yang belum pernah kita singgahi, bukan di tempat saat aku harus membiarkanmu pergi. Di mana kau akan menghabiskan masa depanmu, Sayang? Apakah kau akan bersamaku? Aku masih merasa mabuk, terbang, dan tak ingin pulang ke bumi. Aku ingin terbang bersamamu dan biarlah kita sama-sama jatuh ke bumi, dalam keadaan saling berpeluk, dalam keadaan berjanji tak akan saling meninggalkan.

Aku menunggu saat-saat itu, saat kamu ke sini dan kita bertemu seperti pertama kali kita bertemu. Di saat itu, mungkin kita bisa saling merasakan yang disebut kehangatan ketika jemari kita bergenggaman, dan sumpah demi apapun, aku tidak akan membiarkanmu pergi, menjauh barang sejengkal pun. Aku sudah cukup sakit menahan rindu, menahan perih, menahan jarak; jangan lagi siksa aku dengan kepergian dan pengabaianmu.

Aku memang tak tahu di mana kota tempatmu kembali, namun maukah kaumemilih Jakarta sebagai tempat pulangmu yang baru? Maukah kaupulang ke sini menghabiskan rindu yang selama ini menjadikanku gadis paling menyebalkan? Maukah kaupulang dan berjanji tak akan pergi lagi?


Maukah kau memilihku sebagai tempatmu pulang?

Rasanya Jarak Sejauh Ini....

Posted by sarah wulan dini at 00.06 0 comments
Apa yang menyenangkan dalam jarak sejauh ini? Aku tak bisa menatapmu dan jemariku tak bisa menyentuh lekukan wajahmu. Apa yang bisa kita harapkan dari jarak ratusan kilometer yang memisahkan kita? Ketika rasa rindu menggebu, dan kutahu kautak ada di sisiku. Sejauh ini kita masih bertahan, entah mempertahankan apa. Karena yang kurasa sekarang, cintamu tak lagi nyata, selebihnya bayang-bayang.

Dalam jarak sejauh ini, mungkinkah kita masih saling mendoakan? Seperti saat kita dulu masih berdekatan. Aku tak lagi paham saat-saat dingin mencekam, kamu tak duduk di sampingku, juga tak mendekapku dengan hangat. Aku tak lagi mengerti, saat air mataku terjatuh, hanya ada tanganku (bukan tanganmu) yang menghapus basah di pipiku. Jelaskan padaku, apa yang selama ini membuatku masih ingin bertahan?

Aku hanya bisa menatap fotomu. Diam-diam merapal namamu dalam doa. Mendengar suaramu dari ujung telepon. Kulakukan semua seakan baik-baik saja, seakan aku tak terluka, seakan tak ada air mata, aku begitu meyakinkanmu, bahwa tak ada yang salah di antara kita. Dan, apakah di sana kau memang baik-baik saja? Apakah rindu yang aku simpan dalam-dalam akan menemukan titik temu?

Sayang, aku lelah.


Pulanglah.
 

Sekedar Guratan Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei