Untuk Pengundang Tawaku...
Di malam minggu sedingin ini, mungkin kamu sedang
berpeluk dengan seseorang, sedang merasakan hangatnya kotamu, sedang
mendengarkan alunan musik di sebuah cafe yang penerangannya begitu romantis,
atau mungkin malah sedang bermain kartu sambil menertawakan dirimu sendiri.
Malam ini, sambil mendengar lagu Firasat yang dilantunkan Marcell, aku
bermaksud mengantarkan perasaan rindu ini padamu, rindu yang tak kauketahui,
rindu yang tak kaupahami, rindu yang tak kaugubris sama sekali.
Hari ini, kamu tak menyapaku sama sekali. Aku berusaha
mencari-cari alasan untuk menenangkan diriku sendiri. Pasti kamu sibuk, kamu
sedang melakukan banyak hal, kamu sedang mengurus sesuatu yang membuatmu tak
bisa terus menggenggam ponselmu. Aku tak peduli, Sayang, hingga saat aku
menulis ini; aku masih ingin menunggumu. Bodohkah aku? Tololkah aku? Iya, sejak
kamu hadir mengguncangkan hari-hariku, aku tak lagi bisa bedakan mana kebenaran
dan ketololan. Semuanya berkiblat ke arahmu, otakku dan hatiku. Semakin hari
aku semakin sadar, aku sedang dalam keadaan sangat mencintaimu.
Aku tak tahu apa arti semua ini, Sayang. Apa arti
kedekatan kita? Apa arti kebersamaan kita? Apa arti komunikasi hangat kita yang
terjalin selama ini? Aku tak tahu dan tak ingin mencari tahu. Aku hanya tahu
kamu tiba-tiba hadir, membawa perasaan berbeda dalam duniaku, dan kau
menyelinap ke dalam hatiku; yang pernah aku kunci rapat-rapat untuk siapapun
yang ingin singgah. Aku berharap kautak hanya singgah di sini, aku berharap
kauakan tinggal dan menetap, serta berjanji tak akan pergi lagi.
Aku tak tahu apa arti semua ini. Aku tak tahu mengapa
kauizinkan aku melangkah pelan, masuk ke dalam duniamu, dan kaubiarkan aku
mengganggu aktivitasmu, kauizinkan aku bertanya banyak hal, kautak marah ketika
aku mengganggu keseriusanmu. Aku tidak kamu posisikan sebagai pengganggu,
kaubuka tanganmu lebar-lebar, namun kautak mengajakku masuk ke dalam pelukmu.
Aku tak tahu apa arti pesan singkat kita. Apa arti kalimat "I love you,
too" di akhir percakapan telepon kita. Aku tak tahu, namun aku masih ingin
menjalani hari-hari ini bersamamu. Tak ingin semua berakhir dengan cepat. Aku
ingin semua ini tetap ada dan terus ada, terutama kamu yang selama ini kugilai
setengah mati.
Aku sadar, Sayang, aku bukan siapa-siapa di matamu.
Aku juga sadar, aku hanya gadis pemimpi yang mendambakan ksatria tangguh yang
suatu saat akan membangunkanku dari tidur, namun kutahu sosok itu bukan kamu.
Iya, bukan kamu, dan aku sangat terluka mengetahui kamu tak akan pernah jadi siapapun,
serta aku tak akan pernah jadi siapa-siapamu. Jarak kita begitu jauh, jarak
kasat mata yang tak terbaca indra, jarak yang hanya mampu dibaca oleh isyarat;
di baca oleh hati kita masing-masing.
Lihatlah, Sayang, aku masih mabuk kepayang.. Saat pada
akhirnya aku bisa merasakan tatapanmu, mendengar jelas suaramu, menikmati
suaramu, namun masih tak berani menyentuh sosokmu. Sepulang kuliah, aku
langsung menyusulmu ke sana, ke tempat semua rindu pulang, ke tempat semua
pelukan pergi. Kita berdua duduk berhadapan, di bawah terik matahari kota
Jakarta, dihiasi dengan desing suara pesawat yang pergi dan mendarat, di antara
suara Damri dan taksi warna-warni, juga bersama suara pengumuman pesawat yang
telah siap terbang. Aku tidak menyangka kita bisa melangkah sejauh ini. Aku
bisa menikmati sosokmu tanpa batasan apapun. Aku bisa, Sayang, aku bisa
melihatmu, tepat di depanku. Aku bisa melihat senyummu, tawamu, mendengar suara
beratmu, dan aku percaya ini bukan mimpi. Ini kenyataan yang kuperjuangkan
setengah mati. Hari itu, aku terakhir kali bertemu denganmu, tapi satu jam lagi
kamu harus pergi. Bisakah kaubayangkan rasanya jadi aku? Saat aku sedang
rindu-rindunya sama kamu.
Kamu pulang dengan janji akan kembali, aku tak tahu
kapan kaukembali dan ke mana kauakan kembali, karena ini bukan kotamu, ini
bukan kota kita. Kotamu di sana, bersama masa lalumu, namun aku masih
bertanya-tanya apakah kota ini, kotaku, akan menjadi kota kita jika kau
memutuskan diri untuk menetap di sini? Aku tak mau berandai-andai, aku tak
ingin berharap terlalu banyak, aku hanya ingin bertemu denganmu lagi, di sebuah
tempat yang belum pernah kita singgahi, bukan di tempat saat aku harus
membiarkanmu pergi. Di mana kau akan menghabiskan masa depanmu, Sayang? Apakah
kau akan bersamaku? Aku masih merasa mabuk, terbang, dan tak ingin pulang ke
bumi. Aku ingin terbang bersamamu dan biarlah kita sama-sama jatuh ke bumi,
dalam keadaan saling berpeluk, dalam keadaan berjanji tak akan saling
meninggalkan.
Aku menunggu saat-saat itu, saat kamu ke sini dan kita
bertemu seperti pertama kali kita bertemu. Di saat itu, mungkin kita bisa
saling merasakan yang disebut kehangatan ketika jemari kita bergenggaman, dan
sumpah demi apapun, aku tidak akan membiarkanmu pergi, menjauh barang sejengkal
pun. Aku sudah cukup sakit menahan rindu, menahan perih, menahan jarak; jangan
lagi siksa aku dengan kepergian dan pengabaianmu.
Aku memang tak tahu di mana kota tempatmu kembali,
namun maukah kaumemilih Jakarta sebagai tempat pulangmu yang baru? Maukah
kaupulang ke sini menghabiskan rindu yang selama ini menjadikanku gadis paling
menyebalkan? Maukah kaupulang dan berjanji tak akan pergi lagi?
Maukah kau memilihku sebagai tempatmu pulang?