Rabu, 30 Oktober 2013

Arti Kesepian

Posted by sarah wulan dini at 22.27 0 comments

Ini bukan yang pertama, duduk sendirian dan memerhatikan beberapa tulisan yang berlalu lalang, setiap abjad yang tersusun dalam kata terangkai menjadi kalimat dan entah mengapa sosokmu selalu berada disana, berdiam dengan tulisan yang sebenarnya enggan ku baca dan kudefiniskan lagi. Ini bukan yang baru bagiku duduk berjam-jam yanpa merasakan hangatnya perhatianmu melalui pesan singkat. Kekosongan dan kehampaan telah berganti wajah sejak tadi, namun aku tetap menunduk, mencoba tak memedulikan keadaan, karena jika aku terlalu terbawa emosi, aku bisamati iseng sendiri.

Tentu saja kamu tak merasakan apa yang kurasakan juga tak memiliki rindu yang tersimpan rapat-rapat. Aku sengaja menyembunyikan perasaan itu, agar kita tak lagi saling menunggu. Bukankah dengan berjauhan seperti ini semua terasa lebih berarti? seakan-akan aku tak pernah peduli, seakan-akan aku tak pernah mau tau, sekan-akan aku tak memiliki rasa perhatian. Bagiku sudah cukup seperti ini, cukup aku dan kamu tanpa kita.

Kali ini aku tak kan menjelaskan tentang kesepian, atau bercerita tentang banyak hal yang mungkin sangat sulit kau pahami karena aku sudah tau, kamu sangat sulit diajak basa-basi apalagi kalau diajak bicara tentang cinta, aku yankin kamu akan memutup telinga dan membesarkan volume lagu-lagu yang bernyanyi bahkan tanpa lirik yang bisa kau terjemahkan sendiri. Aku tidak akan tega membebanimu dengan cerita-cerita absurd yang selalu kau benci. Seperti dulu saat kau bicara cinta kau malah tertawa. Seperti saat kita masih bersama, aku berkata rindu namun kau tulikan telinga.

Hanya cerita sederhana yang mungkin tak ingin kau dengar sebagai pengantar tidurmu., kamu juga tidak suka kalau kuceritakan tentang air mata bukan? Bagaimana kalau air mata ini kualihkan menjadi senyum pura-pura? Tentu saja kau tak akan melihatnya, sejauh yang aku tau , kau tidak pernah peka dan mungkin saja sifat burukmu masih sama, walaupun kita sudah lama berpisah dan tak bertatap mata.

Entah mengapa akhir-akhir ini sepi sekali. aku seperti berbisik dan mendengar suaraku sendiri. Namun aku masih saja heran dengan gelapnya malam ternyata ada banyak cerita yang sempat terlewatkan Ini tentang kita. Ah..... sekarang kamu pasti sedang membuang muka, tak ingin membuka luka lama. Akupun juga begitu tak ingin menyentuh bayangmu yang semakin samar, tak ingin menerka senyumanmu yang tak seindah dulu.

Kalau aku boleh jujur kata "DULU" begitu akrab diotak, pikiran, dan telingaku. seperti ada sesuatu yang terjadi sangat dekat, sangat mendalam, sampai-sampai mampu terhapus begitu saja oleh angkuhn ya waktu dan jarak. sudah kesekian kali aku diam-dia menyebut namamu dalam sepi dan membiarkan kenangan terbang mengikuti gelitik manja anguin, tertiup jauh dan mungkin akaan kembali, walau tak tau kapan ..

Wajah baruku bisa kau lihat sendiri, terlihat lebih baik dan lebih hangat daripada saat awal perpisahan kita. Berbicara tentang perpisahan benarkah kita telah berpisah ? benarkah kita sudah saling melupakan? jika memang ada kata "SALING" tapi mengapa hatiku masih terus ingin mengikatmu? kadang jarak bukan menjadi alasan untuk kita saling berbagi. Dalam serba ketidakjelasan aku dan kamu masih saling menjalani, menjalani sesuatu yang tidak tau harus disebut apa. Tapi katamu masih saja terus ada kata nyamanketika kembali berdekatan. Terlau tolokah jika kusebut ini dengan belahan jiwa? Keterikatan aku dan kamu tak ada status tapi napas kita, kerinduan kita memiliki denyut dan detak yang sama.

Tidak usah terlalu dibawa serius hanya beberapa rangkaian paragraf bodoh untuk menemani rasa sepi yang sudah lama sekali datang menghantui. Sejak kamu tak ada lagi disini , sejak aku dan kamu memilih jalan untuk sendiri-sendiri, aku malah lebih sering bermain dengan sepiyang sulit tuk dipungkiri.

Tatapanmu terlihat semakin serius, semakin dalam dan kamu berucap pelan-pelan. Iya, saat itu kamu dan aku menjadi kita. Indah :). Tapi masa lalu, "DULU" sudah kubilang sejak awal kan? "DULU" itu memang menyenangkan.

dan diantara tugas-tugas kampus yang membuat jemariku pegal,
dan diantara kertas-kertas yang berserakan,
aku masih merindukan kamu.  


Senin, 21 Oktober 2013

Aku dan Kamu

Posted by sarah wulan dini at 23.15 0 comments

Kamu mengenalkan namamu begitu saja,  uluran tanganmu berlalu begitu saja dan tak pernah ingin kuingat. Awalnya semua berjalan begitu sederhana, kita bercanda, kita tertawa, dan kita membicarakan hal-hal yang manis, walaupun segala macam pembicaraan hanya tercipta melalui pesan singkat. Perhatian yang mengalir darimu dan pembicaraan yang manis kala itu tak perlu kuanggap luar biasa.

Kehadiranmu membawa perasaan lain. Hal berbeda yang kamu tawarkan begitu berbeda dan membuka mata dan hatiku dengan lebar.Aku tak sadar, bahwa kamu datang memberi perasaan yang aneh. Ada yang hilang jika sehari saja kamu tidak menyapaku melalui pesan singkat. Setiap harinya ada saja topik menarik yang kita bicarakan, sampai pada akhirnya kita berbicara kepada hal yang paling menyentuh yaitu cinta.

Kamu bercerita tentang mantan kekasihmu dan aku bisa merasakan perasaan yang kau rasakan. Aku bisa memahami kerinduanmu akan perhatian seorang wanita. Sebenarnya aku telah memberi perhatian itu tanpa kau ketahui. Mungkinkah perhatian yang ku berikan benar-benar terasa olehmu? Aku mendengar ceritamu lagi. Dan aku bertanya-tanya, "Seorang pria hanya menceritakan perasaannya kepada wanita yang mereka anggap dekat."

Aku bergejolak dan menaruh harap. Apakah kau telah menganggapku wanita spesial walau kita tak memiliki status dan kejelasan?  Senyumku mengembang dalam diam, segalanya berjalan begitu saja, tanpa kusadari cinta telah menyeretku kearah yang mungkin saja tak kuinginkan.

Saat bertemu, kita tak banyak bicara. hanya saja kita saling bertatap dan dengan tersenyum penuh arti. Ketika berbicara melalui SMS, kita begitu bersemangat, aku bisa merasakan semangat itu melalui tulisanmu. Sungguh aku tak percaya segalanya bisa secepat dan sekuat ini. Aku terus meyakinkan diriku sendiri, kalau ini bukan cinta. Ini hanya ketertarikan sesaat karena aku merasakan sesuatu yang baru dalam hadirmu. Aku berusaha memercayai perhatianmu, candaanmu, dan caramu mengungkapkan pikiranmu adalah dasar nyata pertemanan kita. Ya teman, hanya teman dan sebatas teman, aku tak berhak mengharap sesuatu yang lebih.

Aku tak pernah ingin mengingat kenangan sendirian. Aku juga tak ingin merasakan sakit sendirian.Tapi nyatanya….

Perasaanku tumbuh semakin pesat, bahkan tak lagi terkendali. Siapa yang bisa mengendalikan perasaan? Siapa yang bisa menebak perasaan ini jatuh pada orang yang benar atau salah? Aku tidak sepandai dan secerdas itu. Aku hanya manusia biasa yang hanya dapat merasakan kenyamanan dalam hadirmu. Aku hanya seorang wanita yang takut kehilangan seseorang yang tak pernah aku miliki.

Salahku memang mengartikan perhatianmu sebagai cinta? Tapi aku juga tak salah bukan, jika berharap kamu punya perasaan yang sama? Kamu sudah jadi sebab tawa dan senyumku, Aku percaya bahwa kamu tak mungkin membuatku sedih, dan menjadi sebab air mataku. Aku percaya kamulah kebahagiaan baru yang akan memberiku sinar paling terang. Aku sangat memercayaimu. Sangat memercayaimu! Dan itulah kebodohan yang harus ku sesali!

Ternyata ketakutanku terjawab sudah, kamu menjauhiku tanpa alasan yang jelas. Kamu pergi dariku tanpa ucapan pisah dan pamit. Aku terpukul dengan keputusan yang tak kau sampaikan padaku. Tapi pantas kah aku marah? Aku tak pernah jadi siapa-siapa bagimu,  mungkin aku hanya persinggahan, bukan tujuan. Mungkin kalau kamu tau, aku sudah merancang berbagai mimpi indah yang ku ingin wujudkan bersamamu. Mungkin suatu saat nanti, jika Tuhan mengizinkan, aku percaya kita bisa saling membahagiakan.

Aku tak punya hak tuk memintamu kembali, juga tak punya wewenang 'tuk menyuruhmu segera pulang. Masih adakah yang perlu ku paksakan jika bagimu aku tak pernah jadi tujuan? Tidak munafik aku merasa kehilangan. Dulu aku terbiasa dengan candaan dan perhatian kecilmu, namun segalanya tiba-tiba hilang menguap, bagai asap rokok yang hilang ditelan gelapnya malam. Sesunguhnya ini juga salahku, yang bertahan dalam diam meskipun aku punya perasaan yang lebih dalam dan kuat. Ini juga bukan kesalahanmu ataupun kesalahannya. Tapi, tak mungkin matamu begitu buta dan pikiran  serta hatimu begitu cacat untuk mengetahui bahwa aku mencintaimu.

Aku harus belajar tak peduli dan aku juga harus belajar memaafkan serta merelakan.




Terus Menerus

Posted by sarah wulan dini at 23.03 0 comments
Malam  ini semua tampak lebih berwarna, aku sudah melakukan banyak hal sendirian, melatih kemandirian. Mungkin kamu akan terkejut melihat perubahanku, Kamu akan menggeleng kepala lebih lama sambil mengamati gerak-gerikku, aku sudah berbeda sekarang. Atau kalau boleh dibilang, bukan hanya aku, tapi kamu juga sudah berbeda sekarang. Seiring berjalannya waktu, semua berubah tanpa persetujuan kita. Tiba-tiba saja aku sudah menjadi seperti ini dan kamu sudah tak lagi disini.
Akhirnya, ya memang akhirnya, karena tak ada lagi yang akan terulang, hari-hari yang dulu aku dan kamu lalui seperti gelembung basah yang mudah pecah. Realita berbicara lebih banyak, sementara aku dilarang bermimpi terlalu jauh, apalagi berharap semua bisa terulang lagi. Jika kita dulu begitu manis entah mengapa sekarang berubah menjadi miris. Memang persepsiku yang melebih-lebihkan segalanya, mengingat perpisahan yang terjadi tanpa sebab, sampai aku muak mengingat rasa yang kurasa tak kan pernah hilang.
Begitu banyak mimpi yang ingin kita wujudkan, kita ceritakan dengan sangat rapi disetiap bisikan malam, adakah peristiwa itu tersimpan dalam memorimu? Aku berusaha menerima, kita semakin dewasa dan semakin berubah. Tapi salahkah jika ku inginkan kamu duduk disini mendekapku sebentar dan kembali menceritakan mimpi-mimpi kita yang lebih dulu rapuh sebelum sempat terwujudkan?
Aku sudah berusaha bernapas tanpamu, nampaknya semua telah berhasil dan berjalan dengan baik. Tapi diluar dugaanku setiap malam-malam begini kamu kembali dalam ingatan, berkeliaran. Pikiranku masih menjadikanmu menjadi topik utamadan hatiku masih mau membiarkanmu berdiam lama disana. Aneh memang jika aku sering memikirkanmu yang tak pernah memikirkanku. Menyakitkan memang jika harus terus mendewakan kenangan hanya karena masa lalu terlalu kuat untuk dihancurkan.
Beginilah kita sekarang, tak lagi saling menyapa, tak lagi saling bertukar kabar. Sama seperti dulu ketika kita tak saling mengenal. Segalanya terasa asing dan kosong. Apapun yang kita lakukan dulu seperti terhapus begitu saja oleh masa, hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Sejak saat itu juga jantung kita tak lagi mendenyutkan rasa yang sama.
Dengarkan aku. Inilah kita sekarang berusaha melupakan yang disebut kenangan, berusaha melewatkan ketakutan yang disebut perpisahan. Siapa yang melupakan lebih dulu tak menjamin semua akan benar-benar hilang.
Aku punya Kejutan untukmu, sekarang aku sudah menjadi mahasiswa dan mendapatkan IP yang lumayan memuaskan seperti impianku yang sering kuceritakan padamu. Adakah kejutan yang akan kau tunjukkan padaku selain cerita tentang pacar barumu? 


Selasa, 15 Oktober 2013

Arti Kesendirian Untukku

Posted by sarah wulan dini at 06.10 0 comments
Waktu merangkak begitu cepat, merangkak yang kita kira lambat ternyata bergerak tanpa jerat. Semua telah berubah, begitu juga kamu, begitu juga aku, begitupun juga dengan kita. Bahkan waktu telah menghapus KITA yang pernah merasa tak berbeda, waktu telah memutar balikkan segalanya yang sempat indah. Tak ada yang tau kapan perpisahan menjadi penyebab kegelisahan. Aku menjalani kamu meyakini, namun pada akhirnya waktu juga yang menentukan akhir cerita ini. Kamu tak punya hak untuk menebak, begitu juga degan aku.

Kau bilang tak ada yang terlalu berbeda, tak ada yang terasa begitu menyakitkan. Tapi siapa yang tau perasaan orang yang terdalam? Mulut bisa berkata, tapi hati sulit untuk berdusta. Kalau boleh aku jujur, semua terasa asing dan berbeda. Ketika hari-hari yang kulewati seperti tebakan yang jawabannya sudah kuketahui, tak ada lagi kejutan tak ada lagi hal-hal yang penuh misteri yang membuatku penasaran. Aku seperti bisa meramalkan semuanya, hari-hariku terasa hambar karen aku bisa membaca menit-menit didepan waktu yang sedang kujalani. Aku bisa dengan mudah mengerti peristiw, tanpa pernah punya secuil rasa untuk menyelami sebab akibatnya. aku paham dengan tiap detik yang begitu mudah kuprediksi, semua terlalu mudah terbaca, tak ada yang menarik. Kepastian telah membuatku bungkam, sehingga aku kehilangan rasa tuk mencari dan terus mencari. itulah sebabnya setelah tak ada kamu disini, KOSONG!!

Bagaimana aku menjelaskan banyak hal yang mungkin saja tidaj kamu rasakan? Aku berada di lorong-lorong gelapdan menunggu rengkuhan jemarimu mempertemukan aku pada cahaya terang. Namun, tanganmu saja enggan merengkuh tiap celah dam jemariku, dan penyelamatan yang kurindukan hanyalah omong kosong yang memekakkan telinga. Harapanku terlalu jauh untuk mengubahnya seperti dulu, saat waktu yang kita jalani adalah kebahagiaan kita seutuhnya, saat masih ada kamu dibarisan hariku.

Perpisahan seperti mendorongku pada realita yang selama ini ku takutka, Kehilangan mempersatukan aku pada airmata yang sering kali jatuh tanpa sebab. Aku sulit memahami kenyatan bahwa kamu tak lagi ada dalam semestaku aku semakin tak bisa menerima keadaan yang semakin menyudutkanku. semua kenangn bergantian melewati otakku bagai film yang tak pernah mau berhenti tayang. dan aku baru sadar, ternyata dulu kita begitu manis, begitu mengagumkan, begitu sulit tuk dilupakan.

Ada yang kurang, ada yang tak lengkap. aku terbiasa pada kehadiranmu, dan ketika aku menjalani tiap detik tanpamu, yang kurasa hanya bayang-bayang yang saling berkejaran , saling menebar rasa ketakutan. Ada rasa takut tanpa sebab yang memaksaku tuk terus memikirkanmu. Ada ketakuta yang sulit ku jelaskan yang membawa pikiranku tuk selalu mengkhawatirkanmu. Salahkah jika aku masih menginginkan penyatuan? Salahkah jika aku membenci perpisahan?

Tak banyak yang ingin kujelaskan, saat kesepian menghampiriku setiap malam biasanya malam-malam begini ada suaramu, mengantarku sampai gerbang mimpi dan membiarkanku sendiri melewati rahasia hati dibalik selulermu. kali ini aku sendiri memikirkanmu tanpa henti, Jika kita masih saling menghakimi dan menyalahi, apakah mungkin yang telah terputus bisa tersambung dengan pasti? Aku tak tau dan tak mau memikirkan keadaan yang tak mungkin kembali. Semua sudah jelas, namun entah mengapa aku masih sulit memahami. Kenapa kita yang harus alami ini? Tak adakah yang lain? Aku dan kamu bukan orang jahat, namun mengapa kita terus saja disakiti? Bukankah diluar sana masih banyak orang jahat?

Jangan tanyakan padaku, jika senyumku tak lagi sama seperti dulu. Jangan salahkan aku jika pelangi dalam duniaku hanya tersedia warna hitam dan putih setelah kamu tinggalkan Firdaus milik kita, semua jadi berbeda. Aku bahkan tak mengenal diriku sendiri, karena diriku terasa ada dikamu ...... yang pergi. Tapi entah kapan akan kembali.

Aku merindukan kamu, juga KITA yang dulu.. :')

Selasa, 08 Oktober 2013

Kenangan Indah Bersamamu

Posted by sarah wulan dini at 23.59 0 comments
Kemarin malam aku melihat bintang, bintang yang paling dekat dengan bulan. Dulu kamu bilang, “Kalau kamu kangen aku, lihat saja bintang itu“ .
            Aku dan kamu jauh, aku di kota siapapun ingin kesini. Kamu di kota siapapun harus tanya berkali-kali untuk sampai kesana. Tapi pandangan kita selalu sama, bintang yang terdekat dengan bulan.
Malam ini mendung, jadi ga keliatan tuh bintang kita. Lagian…kamu udah “ga’ ada”, mungkin itu salah satu alasan bintang kita hilang malam ini. Mudah-mudahan kamu masih bisa liat bintang kita yah di alam kamu sana. Aku baca di situs luar, katanya orang yg udah meninggal nyawanya pada tinggal dibulan, bener ga sih? Kan ga ada udara, berarti SMS juga ga bisa dong?
Sayang…seandainya kamu masih ada bersamaku, tanggal 10 Oktober besok genap 8 tahun kita jadian. Tahun pertama kamu traktir aku makan bakso di pinggir sekolah kita. Tahun selanjutnya juga disana, selalu kamu yang bayar, hehe.
Sayang…..aku rindu senyuman kecil dibibir kamu, aku rindu genggaman tanganmu saat ada cicak mau deket-deket kaki kamu, aku rindu bisikan halus kamu ditelinga ku, bisikan yang selalu kamu ulangi.
Aku tak akan lupakan kata-kata mesramu itu. Bahkan sampai terakhir kamu hembuskan nafas terakhirmu. Kamu berbisik lirih, ”Sayang Kapan Sih Kamu Mau Berubah, Aku Capek….”. Itu adalah kata-kata terakhirmu yang aku ingat, mungkin sampai sekarang akau masih punya janji dengan mu untuk merubah sifat kekanak-kanakan ku.
Aku masih rindu dengan mu. Aku masih mengingatmu. Dan akan selalu seperti itu.



Sabtu, 05 Oktober 2013

Sesaat Bersamamu

Posted by sarah wulan dini at 23.55 0 comments

 Ketika itu hujan masih membasahi bumi, aromanya yang khas menghanyutkan ku dalam sebuah lamunan. Lamunan tentang dirimu yang kucinta, andai sekarang kau masih ada disampingku, akan kucurahkan semua rasa rinduku ini. Banyak sekali yang ngin aku ceritakan padamu, tentang kerinduan, tentang aku dan kamu. Tapi itu semua tak kan mungkin lagi, kau telah pergi meninggalkan ku dengan sejuta rasa, tuk selamanya.

Walau kamu telah pergi, tapi cintamu masih melekat dalam hatiku, dan akan ku jaga sampai kapanpun. Kamu seorang yang sangat ku sayang, engkau hadir di saat aku butuh cinta. Kau telah berikan cinta yang sesungguhnya, bagaimanapun kau adalah yang terindah.

Dan inilah kisahku,
Adi, sebuah nama yang sangat ku rindukan,pertemuanku dengan adi adalah sebuah takdir, yang telah tuhan rencanakan. Saat itu hujan turun dengan sangat lebatnya, yang harus membuatku lama menunggu disekolah, pada waktu itu tanggal 5 september 2006, waktu menunjukkan pukul 18.00 tapi hujan tak juga reda.

Dari situlah awal perkenalanku dengan adi, dia adalah teman sekelasku, kebetulan dia juga sedang menunggu hujan reda, karena sama-sama menunggu hujan reda akhirnya kita ngobrol dan bercanda-canda 'tuk menghilangkan rasa jenuh.

"Hai, sudah lama disini?" Adi yang mengawali pembicaraan. 
"Hmm yah begitulah. Kamu sendiri ngapain disini? Bukannya kamu tadi sudah pulang?", jawabku
"Iya memang tadi aku sudah pulang, tapi tadi jaket ku ketinggalan, yah jadi aku balik lagi. eh hujan dateng yah jadi aku nunggu, sekalian nunggu kamu, hehehee"

Obrolan yang mengasikkan itu ternyata membuat kami tidak sadar kalau hujan sudah reda dari tadi ,  dan bertukar no hp menjadi obrolan terakhir kita. Aku beranjak meninggalakan adi, karena aku tak mau kemalaman sampai rumah.

Ketika sampai dirumah, aku rebahkan tubuhku, dan ku dikagetkan dengan dering sms dari adi, "Selamat malam ya Sar. Semoga malam ini membuatmu indah, sebagai pengantar tidurmu aku kirimkan ucapan ku ini, good night :)" dari Adi
Sms itu membuatku tersenyum , dan segera ku kirim balasan untuknya, "Selamat malam, Di. Terima kasih udah nemenin aku, night too :p" dari Sarah

Entah kenapa malam itu terasa begitu indah, belum pernah kurasakan hatiku setenang itu, bayangan adi selalu dalam fikirku sampai aku tertidur

Hari demi hari hubunganku begitu dekat dengannya , sampai suatu ketika tanggal 10 oktober 2006 ia mengungkapkan perasaannya, "Sar, aku ingin ngomong sesuatu"
"Iya, kenapa? Emang kamu mau ngomong apa?"
"Jujur Sar, at my first sight of you, I feel something different in yourself. Your smile, your face always in my mind. Tapi aku sempet berpikir kalau ini hanya rasa sesaat ku aja, tapi semakin aku kenal kamu, aku yakin bahwa.. Bahwa.."
"Bahwa apa Di? Kenapa jadi gugup gitu?"
"Yah, gimana yah? Yaah bahwa aku suka sama kamu bukan hanya sekedar berteman aja".
Ya Allah betapa bahagianya aku saat itu, kau telah kirimkan dia yang telah lama aku harapkan hadir dalam hatiku, aku selalu mangharapkan kata-kata itu muncul darimu.
"HAH? Kamu bercanda yah?"
"Aku serius sar, I'm fall in love with you, I think this is the best time, will you be my girlfriend?". Aku lihat keseriusan nampak diraut wajahnya, dan aku putuskan tuk menerimanya menjadi pacarku.

Hari-hari terus berjalan, sampai pada suatu malam, ketika ia ingin mengantarku ke tempat les ku, hari itu menjadi hari yang sangat menyedihkan untukku.

Malam itu adalah malam rabu, dan ia begitu manjanya denganku. Diperjalanan dia berkata, "Pegangan yang erat yah, aku mau ngebut nih",
"Jangan ngebut2 aku takut, pelan-pelan aku belom mau mati bareng kamu!!" jawabku
"Udah gapapa sekali-sekali aja"

Dan saat itu aku menuruti kemauannya, dan itu adalah hal yang membuatku menyesal dengan perkataanku juga karena tidak dapat mencegahnya dan berbicara seperti itu. Beberapa saat kemudian ada mobil kijang di tikungan dengan kecepatan standard , dan Adi tidak bisa mengendalikan motornya. Akhirnya dia banting stang ke kanan, aku dan Adi jatuh, kepala Adi jatuh membentur batu dengan cukup keras, dan dada nya terkena stang motornya, aku terpental jauh dengannya, bahuku retak, darah dan tanah sudah mengotori bajuku, aku mencoba bangun tuk melihat kondisi Adi, tapi aku merasa pusing akhirnya aku tak sadarkan diri. Ketika aku membuka mata, aku sudah berada di rumah sakit, dan aku mendapat kabar kalau Adi sudah tidak ada.

Astaghfirullah, aku tidak percaya dan perasaanku campur aduk. Kehancuran yang sangat mendalam setelah mengetahui berita ini, derai air mata jatuh begitu saja dan aku tidak tau apa yang harus aku lakukan.

Inilah hidup penuh dengan permainan, disaat kebahagiaan itu datang, sang kehancuran datang mengiringi. Aku begitu terpukul karena kepergianmu di, bagiku ini cobaan terberat, aku tak kuasa menahan air mataku.

Untuk my first love, tenanglah engkau disana. Sampai ajal menjemputku dan kita kan bahagia di akhirat nanti.

Tunggu aku disurga

 

Sekedar Guratan Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei