Selasa, 15 Oktober 2013

Arti Kesendirian Untukku

Posted by sarah wulan dini at 06.10
Waktu merangkak begitu cepat, merangkak yang kita kira lambat ternyata bergerak tanpa jerat. Semua telah berubah, begitu juga kamu, begitu juga aku, begitupun juga dengan kita. Bahkan waktu telah menghapus KITA yang pernah merasa tak berbeda, waktu telah memutar balikkan segalanya yang sempat indah. Tak ada yang tau kapan perpisahan menjadi penyebab kegelisahan. Aku menjalani kamu meyakini, namun pada akhirnya waktu juga yang menentukan akhir cerita ini. Kamu tak punya hak untuk menebak, begitu juga degan aku.

Kau bilang tak ada yang terlalu berbeda, tak ada yang terasa begitu menyakitkan. Tapi siapa yang tau perasaan orang yang terdalam? Mulut bisa berkata, tapi hati sulit untuk berdusta. Kalau boleh aku jujur, semua terasa asing dan berbeda. Ketika hari-hari yang kulewati seperti tebakan yang jawabannya sudah kuketahui, tak ada lagi kejutan tak ada lagi hal-hal yang penuh misteri yang membuatku penasaran. Aku seperti bisa meramalkan semuanya, hari-hariku terasa hambar karen aku bisa membaca menit-menit didepan waktu yang sedang kujalani. Aku bisa dengan mudah mengerti peristiw, tanpa pernah punya secuil rasa untuk menyelami sebab akibatnya. aku paham dengan tiap detik yang begitu mudah kuprediksi, semua terlalu mudah terbaca, tak ada yang menarik. Kepastian telah membuatku bungkam, sehingga aku kehilangan rasa tuk mencari dan terus mencari. itulah sebabnya setelah tak ada kamu disini, KOSONG!!

Bagaimana aku menjelaskan banyak hal yang mungkin saja tidaj kamu rasakan? Aku berada di lorong-lorong gelapdan menunggu rengkuhan jemarimu mempertemukan aku pada cahaya terang. Namun, tanganmu saja enggan merengkuh tiap celah dam jemariku, dan penyelamatan yang kurindukan hanyalah omong kosong yang memekakkan telinga. Harapanku terlalu jauh untuk mengubahnya seperti dulu, saat waktu yang kita jalani adalah kebahagiaan kita seutuhnya, saat masih ada kamu dibarisan hariku.

Perpisahan seperti mendorongku pada realita yang selama ini ku takutka, Kehilangan mempersatukan aku pada airmata yang sering kali jatuh tanpa sebab. Aku sulit memahami kenyatan bahwa kamu tak lagi ada dalam semestaku aku semakin tak bisa menerima keadaan yang semakin menyudutkanku. semua kenangn bergantian melewati otakku bagai film yang tak pernah mau berhenti tayang. dan aku baru sadar, ternyata dulu kita begitu manis, begitu mengagumkan, begitu sulit tuk dilupakan.

Ada yang kurang, ada yang tak lengkap. aku terbiasa pada kehadiranmu, dan ketika aku menjalani tiap detik tanpamu, yang kurasa hanya bayang-bayang yang saling berkejaran , saling menebar rasa ketakutan. Ada rasa takut tanpa sebab yang memaksaku tuk terus memikirkanmu. Ada ketakuta yang sulit ku jelaskan yang membawa pikiranku tuk selalu mengkhawatirkanmu. Salahkah jika aku masih menginginkan penyatuan? Salahkah jika aku membenci perpisahan?

Tak banyak yang ingin kujelaskan, saat kesepian menghampiriku setiap malam biasanya malam-malam begini ada suaramu, mengantarku sampai gerbang mimpi dan membiarkanku sendiri melewati rahasia hati dibalik selulermu. kali ini aku sendiri memikirkanmu tanpa henti, Jika kita masih saling menghakimi dan menyalahi, apakah mungkin yang telah terputus bisa tersambung dengan pasti? Aku tak tau dan tak mau memikirkan keadaan yang tak mungkin kembali. Semua sudah jelas, namun entah mengapa aku masih sulit memahami. Kenapa kita yang harus alami ini? Tak adakah yang lain? Aku dan kamu bukan orang jahat, namun mengapa kita terus saja disakiti? Bukankah diluar sana masih banyak orang jahat?

Jangan tanyakan padaku, jika senyumku tak lagi sama seperti dulu. Jangan salahkan aku jika pelangi dalam duniaku hanya tersedia warna hitam dan putih setelah kamu tinggalkan Firdaus milik kita, semua jadi berbeda. Aku bahkan tak mengenal diriku sendiri, karena diriku terasa ada dikamu ...... yang pergi. Tapi entah kapan akan kembali.

Aku merindukan kamu, juga KITA yang dulu.. :')

0 comments:

Posting Komentar

 

Sekedar Guratan Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei