Senin, 21 Oktober 2013

Aku dan Kamu

Posted by sarah wulan dini at 23.15

Kamu mengenalkan namamu begitu saja,  uluran tanganmu berlalu begitu saja dan tak pernah ingin kuingat. Awalnya semua berjalan begitu sederhana, kita bercanda, kita tertawa, dan kita membicarakan hal-hal yang manis, walaupun segala macam pembicaraan hanya tercipta melalui pesan singkat. Perhatian yang mengalir darimu dan pembicaraan yang manis kala itu tak perlu kuanggap luar biasa.

Kehadiranmu membawa perasaan lain. Hal berbeda yang kamu tawarkan begitu berbeda dan membuka mata dan hatiku dengan lebar.Aku tak sadar, bahwa kamu datang memberi perasaan yang aneh. Ada yang hilang jika sehari saja kamu tidak menyapaku melalui pesan singkat. Setiap harinya ada saja topik menarik yang kita bicarakan, sampai pada akhirnya kita berbicara kepada hal yang paling menyentuh yaitu cinta.

Kamu bercerita tentang mantan kekasihmu dan aku bisa merasakan perasaan yang kau rasakan. Aku bisa memahami kerinduanmu akan perhatian seorang wanita. Sebenarnya aku telah memberi perhatian itu tanpa kau ketahui. Mungkinkah perhatian yang ku berikan benar-benar terasa olehmu? Aku mendengar ceritamu lagi. Dan aku bertanya-tanya, "Seorang pria hanya menceritakan perasaannya kepada wanita yang mereka anggap dekat."

Aku bergejolak dan menaruh harap. Apakah kau telah menganggapku wanita spesial walau kita tak memiliki status dan kejelasan?  Senyumku mengembang dalam diam, segalanya berjalan begitu saja, tanpa kusadari cinta telah menyeretku kearah yang mungkin saja tak kuinginkan.

Saat bertemu, kita tak banyak bicara. hanya saja kita saling bertatap dan dengan tersenyum penuh arti. Ketika berbicara melalui SMS, kita begitu bersemangat, aku bisa merasakan semangat itu melalui tulisanmu. Sungguh aku tak percaya segalanya bisa secepat dan sekuat ini. Aku terus meyakinkan diriku sendiri, kalau ini bukan cinta. Ini hanya ketertarikan sesaat karena aku merasakan sesuatu yang baru dalam hadirmu. Aku berusaha memercayai perhatianmu, candaanmu, dan caramu mengungkapkan pikiranmu adalah dasar nyata pertemanan kita. Ya teman, hanya teman dan sebatas teman, aku tak berhak mengharap sesuatu yang lebih.

Aku tak pernah ingin mengingat kenangan sendirian. Aku juga tak ingin merasakan sakit sendirian.Tapi nyatanya….

Perasaanku tumbuh semakin pesat, bahkan tak lagi terkendali. Siapa yang bisa mengendalikan perasaan? Siapa yang bisa menebak perasaan ini jatuh pada orang yang benar atau salah? Aku tidak sepandai dan secerdas itu. Aku hanya manusia biasa yang hanya dapat merasakan kenyamanan dalam hadirmu. Aku hanya seorang wanita yang takut kehilangan seseorang yang tak pernah aku miliki.

Salahku memang mengartikan perhatianmu sebagai cinta? Tapi aku juga tak salah bukan, jika berharap kamu punya perasaan yang sama? Kamu sudah jadi sebab tawa dan senyumku, Aku percaya bahwa kamu tak mungkin membuatku sedih, dan menjadi sebab air mataku. Aku percaya kamulah kebahagiaan baru yang akan memberiku sinar paling terang. Aku sangat memercayaimu. Sangat memercayaimu! Dan itulah kebodohan yang harus ku sesali!

Ternyata ketakutanku terjawab sudah, kamu menjauhiku tanpa alasan yang jelas. Kamu pergi dariku tanpa ucapan pisah dan pamit. Aku terpukul dengan keputusan yang tak kau sampaikan padaku. Tapi pantas kah aku marah? Aku tak pernah jadi siapa-siapa bagimu,  mungkin aku hanya persinggahan, bukan tujuan. Mungkin kalau kamu tau, aku sudah merancang berbagai mimpi indah yang ku ingin wujudkan bersamamu. Mungkin suatu saat nanti, jika Tuhan mengizinkan, aku percaya kita bisa saling membahagiakan.

Aku tak punya hak tuk memintamu kembali, juga tak punya wewenang 'tuk menyuruhmu segera pulang. Masih adakah yang perlu ku paksakan jika bagimu aku tak pernah jadi tujuan? Tidak munafik aku merasa kehilangan. Dulu aku terbiasa dengan candaan dan perhatian kecilmu, namun segalanya tiba-tiba hilang menguap, bagai asap rokok yang hilang ditelan gelapnya malam. Sesunguhnya ini juga salahku, yang bertahan dalam diam meskipun aku punya perasaan yang lebih dalam dan kuat. Ini juga bukan kesalahanmu ataupun kesalahannya. Tapi, tak mungkin matamu begitu buta dan pikiran  serta hatimu begitu cacat untuk mengetahui bahwa aku mencintaimu.

Aku harus belajar tak peduli dan aku juga harus belajar memaafkan serta merelakan.




0 comments:

Posting Komentar

 

Sekedar Guratan Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei