Minggu, 21 Desember 2014

Aku Bosan Menjadi "Bukan" Diriku

Posted by sarah wulan dini at 21.19 1 comments
"Aku lelah menjadi seseorang yang bukan diriku sendiri. Aku lelah menjadi seseorang yang bahkan tak kukenali sama sekali."

Aku hanya bisa mematung seusai mendengar vonis dokter yang saat ini masih tak kupercayai realitanya. Aku hanya bisa mematung dan berpikir, aku mencoba menyelami labirin-labiran dalam otakku yang semakin rumit dan tak kumengerti. Aku mencoba mengungatkan langkahku dan menegakan ketegaran hatiku. Tapi, aku muak untuk terlihat menjadi kuat! Aku muak berpura-pura menjadi seseorang yang terlihat kuat! Aku lelah harus terus terlihat seakan-akan aku percaya bahwa aku segera sembuh, bahwa aku dituntut agar tidak terlihat lemah karena penyakit yang masih saja menggerogoti tubuhku. Aku lelah berpura-pura dalam kesakitanku. Aku lelah dalam kepalsuan. Aku ingin menangis tapi nyatanya aku hanya bisa menyembunyikan air mataku.

Aku iri dengan mereka yang bisa tersenyum bahagia tanpa kepalsuan. Aku iri dengan mereka yang bisa berlari dan bergerak bebas dalam sandiwara yang skenarionya telah dipersiapkan Tuhan. Aku ingin seperti mereka yang menghabiskan waktunya tanpa khawatir akan hadirnya kematian yang bisa saja menghampiri mereka tiba-tiba. Aku ingin seperti mereka! Aku ingin menjadi pelakon dalam sandiwaraku sendiri, aku ingin menjadi pemeran utama dalam sandiwara yang Tuhan izinkan terjadi itu. Tapi, nyatanya, aku hanya menjadi seorang penonton! Aku hanya bisa menunggu datangnya kematian!

Kalau manusia diizinkan untuk marah dengan takdir yang Tuhan rancang, mungkin aku akan terus menjadi pemarah yang tidak henti-hentinya merapal kata-kata kekesalanku pada Tuhan. Kalau manusia berhak untuk merancang takdirnya sendiri, aku pasti mampu merancang kebahagiaanku sendiri, dengan kekuatanku sendiri, dengan kemampuanku sendiri. Tapi, inilah aku dalam keterbatasanku. Aku hanya bisa diam! Aku hanya bisa duduk memperhatikan! Aku hanya bisa melakukan kepalsuan! Aku hanya bisa bahagia walau dalam kepura-puraan.

Aku hanya ingin sembuh, Tuhan. Aku hanya ingin helaan nafasku tidak berhenti secepat ini. Aku lelah menjadi seseorang yang bukan diriku sendiri. Aku lelah menjadi seseorang yang bahkan tak kukenali sama sekali. Aku lelah menahan sakit. Tuhan, bisakah sekali lagi kita bercakap dalam doa? Aku masih belum siap bercakap denganMu secara langsung, akan kujelaskan padaMu bahwa aku masih butuh waktu. Aku belum siap Kau jemput. Beri aku waktu, Tuhan.

Aku yang Dia sembunyikan

Posted by sarah wulan dini at 21.16 0 comments
Aku tak pernah bebas mencintai dia. Dia lebih suka kucintai secara diam-diam. Dia lebih suka kucintai tanpa harus ada banyak orang yang tahu. Itulah kita, dengan kemesraan yang kami sembunyikan, dengan sapaan sayang yang tak pernah terdengar di muka umum. Seringkali, ada rasa sakit yang menyelinap secara nyata dalam “kerahasiaan” ini, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa, aku tak pernah mampu melawan dia yang tetap saja mengatakan sayang meskipun aku selalu dia sembunyikan.

Kami memang terlihat seakan-akan tak memiliki hubungan khusus, kami memang seringkali terlihat seakan-akan tak punya perasaan apa-apa. Padahal, saat kami hanya berdua, perasaan itu membuncah dengan liarnya, rasa cinta itu mengalir dengan derasnya. Tak ada orang lain yang tahu bahwa kami telah bersama, karena dia selalu berpendapat bahwa suatu hubungan memang tak butuh publikasi berlebihan. Tapi, menurutku, ini bukan hanya sekadar pubikasi yang dia ceritakan, nyatanya aku benar-benar disembunyikan, nyatanya saat dia bersama teman-temannya, aku seakan-akan tak pernah ada didekatnya, aku diperlakukannya seperti orang lain. Ada rasa sakit yang sebenarnya diam-diam menyiksaku, tapi aku masih sulit memutuskan tindakan yang harus kulakukan.

Memang, di depannya aku tak pernah mempermasalahkan pengabaiannya, tapi justru tindakan itulah yang membuatku tersiksa di belakangnya. Aku memang bahagia saat bersamanya, tapi apa gunannya kalau dia hanya sanggup untuk menyembunyikanku? Aku memang merasa hangat jika dalam peluknya, tapi apa gunanya jika pelukan itu semu dan tak bisa terus menghangatkanku? Aku terpaksa menunggu dihubungi lebih dulu, jadi dia akan datang padaku ketika dia hanya membutuhkanku? Padahal aku merindukannya, padahal aku ingin menghubunginya lebih dulu.

Aku seringkali merasa bukan seseorang yang penting dalam hidupnya, karena memang dia jarang memperlakukanku layaknya orang penting dalam hidupnya, padahal aku selalu menganggap dirinya penting dalam hidupku, bahwa sebagian diriku ada bersamanya. Lupakan makan malam romantis, lupakan gandengan tangan yang manis, lupakan boneka yang tersenyum dengan bengis, dia memang tak seromantis pria-pria lainnya, dia memang selalu lupa untuk memperlakukanku layaknya wanita. Mungkin, aku sudah terbiasa disakiti olehnya. Mungkin, perasaanku buta akan cinta sesungguhnya, sehingga perlakuan yang menyakitkan pun tetap kuanggap sebagai perlakuan yang membahagiakanku.

Dia bahkan tak mempertegas status kita. Seringkali aku bertanya, inikah cinta yang kucari jika dia hanya bisa menyakiti? Inikah dunia yang kuharapkan jika aku merasa frustasi?  Inikah hubungan yang akan membahagiakanku jika dia tak pernah menganggapku ada dan nyata?


Apakah ini saatnya untuk melanjutkan, atau berhenti di tengah jalan?


Kita mungkin belum benar-benar putus

Posted by sarah wulan dini at 21.14 0 comments

Mungkin, dulu aku tak benar-benar mencintaimu, ketika jantungmu berdetak lebih cepat saat bertemu denganku, aku tak merasakan jantungku berdetak dengan hebat ketika bersamamu. Perkenalan kita begitu singkat, pertemuan kita cukup beberapa saat, lalu kaukatakan cinta, lalu ka tunjukkan rasa, lalu kaubahagia dengan cinta "instan" yang kita lalui berdua. Ya, aku bahagia, tapi tidak benar-benar bahagia, karena (mungkin) aku tak merasakan perasaan yang sama denganmu, karena (mungkin) aku asal menjawab saja ketika ka memintaku menjadi saru-satunya dalam hidupmu.

Aku tak pernah mempedulikanmu! Aku tak pernah mau tahu kabarmu! Aku hanya bertingkah seolah-olah kaukekasihku, karena masih ada labirin-labirin kosong dihatiku, yang tak mampu terisi olehmu. Ya, kita bertingkah layaknya pasangan kekasih yang sangat bahagia, tapi apa yang kurasakan? Genggaman tanganmu, kosong! Pelukanmu, semu! Tutur katamu, tak penting bagiku! Senyummu, tak mampu membuat jantungku menderu menggebu! Aku lebih suka menghabiskan waktu dengan pria-pria itu! Bermesraan dengan mereka tanpa kautahu apa yang kulakukan dibelakangmu. Sebenarnya, apa yang salah denganku? Sebenarnya, ini salahku atau salahmu?

Awalnya, semua berjalan biasa saja, tapi aku mulai risih dengan tingkah bodoh dan keanehanmu! Aku tak tahan dengan semua hal bodoh yang kauperlihatkan padaku. Aku tak suka caramu mengatakan cinta dengan hal setolol itu! Kenapa kaselalu membuatku marah? Kenapa kautak pernah berusaha menumbuhkan cinta dalam hatiku? Kenapa aku tak bisa mencintaimu walaupun kutahu kautelah berkorban banyak untukku?

Tapi, Tuhan memang adil, Tuhan berikanku rasa sakit untuk menyadarkanku dari kesalahanku. Kata putus yang kulontarkan dengan begitu mudahnya, tanpa tangis tapi penuh tawa ternyata tak selamanya menjadi tawa bagiku. Selang beberapa hari memang semua berjalan normal, tapi aku merasa ada mozaik yang hilang dalam hidupku; kamu yang kutinggalkan dengan sengaja dan dengan kejamnya. Pesan singkatmu, tawa renyahmu, senyummu, kata-kata cintamu, tak ada ada lagi hal-hal manis yang dulu kuanggap seperti sampah itu. Tak ada lagi kamu yang mengisi hari-hariku dengan lelucon bodoh dan tampang tolol itu. Tak ada lagi kamu yang diam-diam mencium pipiku ketika aku sibuk dengan handphone dan laptopku. Aku merasa sendirian. Aku benar-benar merasa kehilangan. Kini, aku semakin percaya bahwa kita baru benar-benar mencintai seseorang ketika kita kehilangan sosoknya, dan hal itu kini terjadi padaku.

Memang, setelah berpisah denganmu, aku dengan begitu mudahnya mendapat seseorang lagi yang berusaha mengisi hari-hariku, tapi dia tak sebodoh kamu, dia tak setolol kamu, dia tak mampu menggantikan kamu. Dia hanya berhasil mengganti statusku yang single menjadi in relationship, dia tak benar-benar mampu menggantikan kamu yang (tanpa kusadari) telah mengisi hatiku. Aku semakin mengerti bahwa tak ada seorangpun yang mampu menggantikan sosokmu.

Meskipun kini aku telah bersamanya, dan kaujuga telah menemukan seseorang yang baru, tapi perasaanku tak berubah sedikitpun. Aku justru sangat mencintaimu ketika kini kautelah bersamanya. Saat melihat kaudengan dia, ada rasa sakit yang menikamku dalam-dalam, ada kenangan yang diam-diam mendesakku kembali ke masa lalu, sambil berkata dalam hati: "Dulu aku pernah menggenggam tanganmu, tapi sekarang dia yang mampu melakukan itu, kekasih barumu."

Hanya itu yang bisa kulakukan, MENYESAL! Membiarkanmu mencintaiku tanpa mempedulikan perasaanmu, membiarkanmu memberi kejutan tanpa pernah memerhatikan usaha kerasmu, aku sadar bahwa ternyata dulu kamu benar-benar mencintaiku. Cuma itu yang bisa kulakukan, menangis diam-diam ketika kulihat barang-barang pemberianmu masih kusimpan dengan rapi. Kita memang telah berpisah, tapi perasaanku belum bisa lepas darimu. Kita memang telah putus, tapi kenanganku tentangmu belum benar-benar putus.


Aku takut kehilangan seseorang yang tak lagi kumiliki... kamu.

Kamis, 18 Desember 2014

Masih Kita

Posted by sarah wulan dini at 21.18 0 comments
            Jangan merasa nyaman seperti itu, Karena kita masih begitu asing. jangan bersikap begitu sembarangan, karena kau tahu aku tak pernah lagi ingin mengulanginya, Jangan berbuat seperti apa yang pernah kau lakukan di awal kita sebelum ada akhir dari kita. Sekali lagi ku minta, Jangan mendesaku seperti anak kecil, karena kita tahu bagaimana ini akhirnya. Dan aku tak ingin memulainya lagi seperti apa yang pernah ku lakukan, seperti akhir yang seperti apa yang pernah ku dapatkan.

            Aku tak menyukai cinta dari jiwa masa muda, terlalu banyak hal yang bermain dengan api. Dan aku pernah terbakar karenanya, Aku hanya terjatuh dan bergetar sedikit, tapi aku baik – baik saja?, tidak sebenarnya adalah ... Aku masih membencimu, kau yang telah meninggalkan diriku. Aku masih membenci seseorang yang begitu manis ketika masih ada kata ‘kita’ dalam perjalanan kisah itu, aku mencoba mencintai lagi tapi Hatiku masih tetap dingin, hatiku masih sakit, namun hatiku masih Merindukanmu  . . .

            Jangan bersikap cerah seperti itu, Karena dunia ini masih gelap. Bagaimana aku bisa tersenyum cerah, apa kau tak bisa melihatku lebih dalam?. Jika kau tahu sebenarnya aku sedih, karena aku pernah ada di sana, dalam posisi yang seperti apa. Sungguh, aku tak suka cinta yang penuh perhitungan, Aku bahkan tak pernah bisa lagi percaya akan apa itu cinta, dan bagaimana jatuh cinta dengan benar dan semestinya. Karena pada kenyata’annya cinta bukanlah cerita tentang kebahagiaan saja, selalu ada titik di mana kau akan terbang tinggi dan kau akan jatuh tersungkur.

            Mungkin aku hanya lelah, tapi aku baik – baik saja. Tidak sebenarnya aku . . . Masih membencimu atas apa yang kau lakukan, aku masih membencimu. Cinta yang telah meninggalkanku dalam gelap, Aku masih tak bisa melakukan atau memulai sesuatu yang seperti apa pernah ku lakukan, karena aku masih merindukanmu . . .


            Aku tak pernah tahu bahwa Cinta dihari mudaku berakhir seperti ini, seharusnya kita bahagia, seharusnya aku senang dan ku harap Kau pasti senang. Ini adalah akhir untuk kita, dan aku tak ingin memulainya lagi meski dengan siapapun, karena aku tahu jika kita memang pernah saling mencintai Bahkan jika waktu yang lama berlalu, kita masih akan mengingat satu sama lain, Saat-saat ketika masih ada kata "kita" 

Rabu, 10 Desember 2014

Untukmu, Aku Memantaskan Diri

Posted by sarah wulan dini at 23.25 0 comments
Aku pernah mencoba dengan dia yang salah. Kau pernah gagal menjelajahi labirin hatinya sampai kehilangan arah.
Tapi bukankah setiap pagi selalu menawarkan kesempatan baru? Bukankah setiap orang berhak atas perjalanan yang lebih menjanjikan untuk dijalani kemudian?
Demimu, aku rela menunggu. Demi kau, aku bersabar dan berjibaku demi memantaskan diriku.”
Hey kamu, yang juga sedang berjuang menahan diri
Untukmu yang sedang berjuang menahan diri
Apa kabar dirimu? Jika bisa, rasanya ingin kutawarkan tempat duduk di sisiku khusus untukmu. Ingin kupandang wajahmu lekat-lekat lalu bertanya,
“Beratkah hari-harimu belakangan ini? Cukup menyenangkan kah pekerjaan yang sedang kau jalani? Atau kau masih berkutat dengan teori dan buku yang membuatmu terjaga sampai dini hari?”
Harapanku, semoga kamu dan kehidupanmu di sana berjalan mulus tanpa gangguan yang berarti. Doaku tak putus-putus untukmu, kukirim dari sini.
Seandainya sekarang kita sudah bisa berjumpa, ingin kuceritakan semua rasa yang sudah sekian lama mengendap di udara. Melihat kuatnya hasratku bercerita, tampaknya kelak pertemuan kita akan lebih mirip reuni dua sahabat lama dibanding pertemuan dua orang yang sedang dimabuk cinta.
Sampai hari itu tiba, kumohon tabahkan dirimu. Semesta sedang berjingkat mengurus pertemuan kita di satu masa paling sempurna. Yakinlah ia akan segera ada di hadapan mata.
Padamu, yang kuyakini telah ditakdirkan namun tetap perlu diperjuangkan
Kamu memang telah ditakdirkan, namun tetap butuh diperjuangkan
Kita adalah dua manusia yang sebenarnya berjuang di arena pertarungan serupa, hanya saja dari dua tempat berbeda. Kau berjuang menjaga mata, aku di sini mencoba sekuat tenaga membentengi hati sampai kau tiba.
Beragam godaan itu tetap ada. Mulai dari ajakan nonton, makan bersama, sampai tawaran diantar pulang ketika waktu sudah kian malam. Sebagai manusia biasa, kadang aku tergoda. Iri rasanya melihat rekan-rekan sejawat tampak punya pasangan yang selalu bisa diandalkan. Sedang aku, harus sabar menghadapi dunia seorang diri sembari menunggumu datang.
Maka Sayang, jangan pula kau keluhkan keterbatasanmu. Memang benar, kau sering diejek tidak laki-laki karena tak kunjung menyampaikan perasaanmu. Tak jarang juga kau diberi label “jomblo abadi” sebab hidupmu nihil wanita yang mendampingi. Sesekali merasa tak nyaman itu wajar, tapi jangan pernah menyalahkan orang-orang di sekitarmu dan mengutuk keadaan. Mereka hanya belum paham apa yang sesungguhnya sedang kita perjuangkan.
Bukan penjelasan panjang lebar yang bisa menyelamatkan. Orang-orang itu hanya butuh melihat kegigihan dan keyakinan kita:
Bahwa semua perasaan yang belum kita luapkan ini akan menemui muaranya. Menjumpai akhir yang kita tunggu sebagai pesta perayaan. Jika menahan diri untuk tidak membuka hati pada sembarang orang adalah puasa, berjumpa denganmu jadi momen berbuka yang telah ditunggu sekian lama.
Saat pertemuan itu terjadi, kita akan saling menatap dengan penuh isyarat. Mata kita bertaut merayakan kemenangan. Kita dua orang yang sama-sama keras kepala berjuang demi akhir yang sebenarnya belum bisa diperkirakan. Kita, sepasang cinta yang dipertemukan tanpa proses pendekatan. Kau dan aku, sepasang manusia yang lekat tanpa pernah harus berpelukan.
Tak perlu khawatir, Sayang. Seburuk apapun dirimu, tangan ini akan tetap terbuka. Dulu, aku pun pernah jadi versi brengsek dari seorang manusia
Seburuk apapun dirimu, kau akan tetap kuterima
Datanglah padaku dengan apa adanya. Kau tak perlu harus sangat kaya raya, rupawan, atau punya kesabaran tanpa batasan demi menjadikanku pasangan. Sungguh, versi ideal macam itu tak begitu penting di mataku. Aku pun tak akan repot bertanya berapa banyak hati yang sempat kau lewati sebelum diriku. Buat apa? Toh tanpa mereka, kau yang sebaik hari ini juga tak akan ada. Walau kadang cemburu, aku akan berusaha sekuat mungkin untuk berdamai dengan masa lalumu.
Bagiku, cukuplah kamu yang muncul di depan pintu sembari berkata,
“Aku sudah selesai dengan diriku. Sekarang aku ingin menjalani hidup bersamamu.”, kata-kata sederhana macam ini sudah bisa melelehkan hatiku.
Aku juga bukan manusia sempurna. Dulu, aku sempat menjelma jadi versi brengsek seorang manusia. Aku pernah menyakiti orang-orang yang menyayangiku tanpa syarat. Aku pernah melakukan kebodohan dengan menyerahkan hati pada orang yang salah. Dalam beberapa kesempatan, air mataku sempat menetes karena menangisi kehilangan yang serasa seperti kiamat.
Kau bisa menemukan tweets dan status Facebook-ku yang penuh kata-kata puitis nan galau. Jika menggali postingan lama blog-ku akan kau temukan aku yang sempat mencintai orang lain sedaalam itu. Tak perlu cemburu. Aku yang kini sudah selesai dengan romantisme picisan macam itu.
Aku juga bukan Perawan Maria yang suci dari jamahan pria. Jelas akan kupersembahkan tubuhku untukmu. Satu yang perlu kau tahu, ada jejak tangan lain yang tertinggal di sana bukti bahwa aku pernah alpa sebagai manusia. Egomu mungkin terluka saat mendengar pengakuanku, namun aku tak ingin memulai segalanya di bawah payung dusta. Kau berhak mendapatkanku dalam versi sejujur-jujurnya.
Setelah mendengar ini, semoga kau tak kecewa. Aku hanya berharap kau melihatku sebagai orang yang pernah salah arah, tapi rela berjuang kembali ke jalan yang “benar” biarpun sampai harus berdarah-darah.
Bersabarlah. Hingga tiba hari di mana kita bisa berbagi rengkuh dan merayakan peluh tanpa perlu khawatir dosa
Bersabarlah sampai kita bisa merayakan kemesraan tanpa dosa
Aku tahu pasti tak enak rasanya. Mengabaikan semua goda untuk punya pendamping sementara yang bisa diajak bercerita. Tak mengindahkan rasa butuh diusap sayang oleh seseorang setiap lelah datang. Mungkin gagal dan sakit memang membentuk kita jadi penyintas yang rela mengakrabi sepi. Atau bisa jadi, rasa lelah karena terus-terusan gagal menjadikan kita malas membuka hati demi yang dia yang tidak pasti.
Setiap rasa sepi dan sendiri itu menyeruak, selalu ingatlah. Kau tak sendiri. Kita sejatinya sedang bergumul di satu garis emosi.
Saat kau peluk gulingmu erat-erat, aku pun sedang sibuk berharap bisa tidur nyaman di atas bahumu cepat-cepat.
Waktu kamu merasa nelangsa karena makan seorang diri,  aku disini pun tak lebih baik nasibnya. Sembari menyendok salad penuh fetta cheese , aku berdoa semoga bisa segera bertemu kamu untuk punya agenda makan malam bersama yang penuh canda.
Demi kebersamaan sederhana macam itu, kau memaksaku makan malam penuh lemak di Rumah Makan Padang pun tak apa. Selama muka kepedasanmu bisa kutemukan di depan mata.
Jarimu berteriak butuh genggaman. Pinggangku menjerit ingin direngkuh saat menyeberang jalan. Kita berharap segera saling menemukan.
Tapi bukankah hal-hal baik selalu membutuhkan waktu tunggu? Antre dokter saja kita rela menanti berjam-jam. Memalukan ‘kan jika cinta justru kita harap datang tanpa proses panjang?
Akan tiba masa dimana kita bisa saling merengkuh, meluapkan kasih lewat peluh. Akan datang malam-malam hangat ketika kita bisa berbagi selimut berdua. Main petak umpet, lompat tali, bertanding uno dan adu main domino atau sesederhana bercinta di bawah hangatnya kain penutup badan tanpa perlu lagi khawatir pada ancaman api neraka.
Berdua, kita menggenapkan hidup masing-masing. Berdua, kita rayakan surga dunia tanpa perlu lagi takut dosa.
Sampai hari itu datang, jangan lelah untuk terus berjuang. Meski tak bersisian, ketahuilah kau tak pernah sendirian
Bersabarlah, hingga kita bertemu di masa yang paling tepat
Sebelum tiba waktunya kita ditakdirkan untuk saling menemukan, kau dan aku hanya harus menambah tabungan ketabahan.
Hidup terlalu singkat untuk terus-terusan mengeluhkan kesepian. Hatimu terlalu berharga jika diisi dengan kesibukan untuk mengurusi cinta yang hanya sementara.
Setiap kau merasa sendiri dan tak ada yang mendampingi, ingatlah padaku. Seseorang yang belum pernah kau temui. Manusia keras kepala yang kata orang punya imajinasi liar dan gila  karena rela mati-matian menjaga diri agar pantas menyandingmu yang entah kapan datangnya.

Tidakkah fakta ini harusnya membuatmu merasa punya rekan? Aku mendampingimu dalam diam. Barang sedetik pun, kau tak pernah sendirian.

Senin, 01 Desember 2014

This is What Love is

Posted by sarah wulan dini at 21.55 0 comments
I was in high school when this happened. I was a freshman going out with who I thought was the love of my life. We did everything together. Cuddled at lunch, sneaked kisses in the hallway, and went out together on picnics and to restaurants. Then, one day he started avoiding me in the hallways and we didn't see each other in the morning or after school as much. The only time I really got with him was at lunch and even then he was talking to his friends instead of talking to me. I went home upset and crying and my mother asked me what was wrong. I told her and the wise saying she told me I would never forget. "In the world, there is love. In love, there is pain. In pain, there is also love. So, therefore, love can be painful yet amazing. So don't worry about him. Instead, worry about the people that already love you for who you already are." She then wiped away my tears and told me that she would love me forever even if I did something horrible. A couple days later we broke up but instead of weeping and crying, instead I said that I hoped one day he would truly find out what love was and went on my way. A couple years later, when I had a child of my own, the same thing happened to them. I told them the wise saying my mother once told me long ago. Then, I told them "That's what love is."

Stay Strong

Posted by sarah wulan dini at 21.54 0 comments
Some people have this gift, they love and they never let go. Let me tell you, you need to find a way to fight your gift. One day, you're going to find the guy or girl that you're going to think is the one and spend three years with them. They will then break your heart and tell you that you aren't good enough. 

Finding somebody that feels the same way about you is going to be hard, but you will get over it. You will find somebody who does love you for who you are instead of what you look like, or how much money you have. Someone is made for you, I promise. 

It has been a month and a half since the guy that I thought was my soul mate broke up with me. He gave me every excuse in the book, but let me tell you, I was in love with him. He made me happy, but it just wasn't working out for him. It took a while before we were friends again. 

I spent every night for a month crying over him, but he wasn't worth it. I didn't see that until now. I wanted to just disappear, just get away from everything and everyone, but I didn't. It worked out perfectly though, because I knew that there is somebody out there for me. One of my great friends once told me "you have to go through a few heart breaks before you can find the real true one."

I know, I know, it can be more than a few or even less. It just depends when you meet him. 
I wish you all good luck. Trust me, when you think that you are all alone in the world, but you have nobody to talk to, I'm always here. I understand.

True Friends

Posted by sarah wulan dini at 21.46 0 comments
Two inseparable friends, Sandy and Jaka, met with an accident on their way to Bekasi City. The following morning, Jaka woke up blind and Sandy was still unconscious. Dr. Bobi was standing at his bedside looking at his health chart and medications with a thoughtful expression on his face. When he saw Sandy awake, he beamed at him and asked." How are you feeling today San?" Sandy tried to put up a brave face and smiled back saying, "absolutely wonderful Doctor. I am very grateful for all that you have done for me. "Dr Bobi was moved at Sandy's deed. All that he could say was, "You are a very brave man Sandy and God will make it up to you in one way or another". While he was moving on to the next patient, Sandy called back at him almost pleading, "promise me you won't tell Jaka anything".
"You know I won't do that. Trust me." and walked away.
"Thank you " whispered Sandy. He smiled and looked up in prayer " I hope I live up to your ideas... please give me the strength to be able to go through this..

Months later when Jaka had recuperated considerably, he stopped hanging around with Sandy. He felt discouraged and embarrassed to spend time with a disabled person like Sandy.

Sandy was lonely and disheartened ,since he didn't have any body else other than Jaka to count on. Things went from bad to worse. And one day Sandy died in despair. When Jaka was called on his burial, he found a letter waiting for him. Dr Bobi gave it to him with an expressionless face and said" This is for you Jaka. Sandy had asked me to give it to you when he was gone". 
In the letter he had said: " Dear Jaka, I have kept my promise in the end to lend you my eyes if anything had happened to them. Now there is nothing more that I can ask from God, than the fact ,that will see the world through my eyes. You will always be my best friend........San".
When he had finished reading Dr. Bodi said " I had promised San to keep his sacrifice he made a secret from you. But now I wish I didn't stick it Because I don't think It was worthy it" .
All that was left for Jaka while he stood there was tears of regret and memories of Sandy for the rest of his life.

You comforted my heart

Posted by sarah wulan dini at 21.12 0 comments
Deep into the green of the forest
I once took to safari
To discover the secrets of the wild.
Among the thickets and the bushes
I saw a flower in blossom
Shining like in its first day of bloom.

That was one time my eyes fell on you
Among the population in my home town
Like the flower that I saw...
It was you shining among them
You comforted my heart
Making me come up to you.

That was then the day
Like a dove that had lost its partner
How you made me discover my lyrics again
To you I sang and danced
Song after song I spoke my heart to you.

Little did I know wild flower
You would return love in abundance
Like the sands of the sea...
Day after day I shovel for love
Ever abundant, never ending
The reason my heart follows you.

Tempted and pleased with your ways
In the wild I would never let you be.
With care and utmost wanting I dug you up
Planting you in the garden of my heart
There you flourish
There you bloom and shine
 

Sekedar Guratan Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei